Manusia dan Sifat Lupa

Dulu waktu aku masih kuliah di Brawijaya, aku dan adik-adikku selalu berangkat pagi-pagi diantar bapak. Adik-adikku sekolah di Brawijaya Smart School yang tetanggaan dengan kampusku. Sengaja dibuat begitu memang. Kata bapak agar kalau antar-jemput biar sekalian.

Biasanya kami berangkat pukul 6 kurang 10 atau 15. Lebih dari itu, daerah Soekarno-Hatta sudah pasti macet dan adik-adikku pasti akan mengomel karena takut kena poin tatib (tata tertib). Biasanya bapak cenderung santai-santai saja, karena kata bapak, beliau hanya bertugas mengantar. Mau cepat atau lambat, itu tergantung mereka apakah bisa bangun lebih pagi dan mandi cepat. Sedangkan sebenarnya biasanya bapak yang mandinya lama. Kalau sudah begitu adikku yang perempuan mengomel-ngomel, “Duh suwe iki, lama ini.”

Nah, perihal siapa yang bangun paling pagi, biasanya kalau tidak bapak ya ibu. Mereka saling membangunkan. Mereka selalu bangun subuh sekitar 4 pagi, sedangkan aku jarang sepagi itu. Biasanya aku bangun pukul setengah 5 atau pukul 5. Karena bapak sholat subuh pukul 4, aku yang bangun pukul 5, jadi sering merasa malu. Tapi apa mau dikata, memang sulit bangun pukul 4 lalu tidak tidur lagi. Kalau bangun pukul 4 dan tidak tidur setelah subuh itu sulit. Bisa sih tidur setelah subuh, tapi setelah bangunnya aku merasa tidak produktif dan menyesal setelah subuh tidur lagi. Selain itu, berdasarkan hadis atau Al-Quran ya aku lupa, tidur setelah subuh tidak dianjurkan. Jadi, aku lebih memilih bangun pukul 5 atau setengah 5, tetapi tidak tidur lagi setelah itu.

Kalau adikku yang laki-laki dia paling sulit dibangunkan. Kadang aku pun juga heran dengan dia. Dia disuruh tidur lebih awal sulit sekali, tetapi boro-boro beranjak dari kasur, membuat dia melek dan duduk di kasur saja sulitnya masyaallah. Pernah dia setel alarm pakai Avenged Sevenfold yang awal liriknya langsung teriak-teriak. Sontak aku yang tidur di lantai dua terbangun, sedangkan dia masih mengorok. Kesal, tidak? Dia hampir tidak pernah berhasil bangun pakai alarm. Kalau mama teriak dari lantai bawah, aku dan adikku yang perempuan yang terbangun. Teriakan mama yang sudah cukup ngotot itu tidak mempan. Biasanya aku yang akan ke lantai tiga untuk bangunkan dia sambil marah-marah, karena kalau aku sabar, pasti dia sok-sokan langsung tidur. Kalau amukan-ku tidak mempan, maka itu tugas ayah.

Lain halnya dengan adikku yang perempuan, dia sangat mudah dibangunkan. Kadang aku cium pipinya saja dia sudah terbangun. Entah kenapa dia bisa terasa padahal sudah aku lakukan sepelan mungkin. Dia terbangun sambil marah-marah dan tangannya buru-buru mencakarku. Aku pun dengan sigap lari dari kamar sambil tertawa. Pokoknya dia sudah bangun.

Lalu jika urusan bangun-mandi-sarapan sudah, kami cus pergi ke Brawijaya. Dan, kalau sudah di mobil dalam perjalanan ke sekolah, adikku yang laki-laki selalu tidur. Tidak pernah tidak. Kadang aku suka heran, kok sampai segitunya.

Jadi ketika bapak bercerita dalam mobil, mungkin hanya aku dan adikku yang perempuan yang mendengarkan. Lalu, suatu ketika, bapak bilang, “Manusia itu untung lo ada sifat lupa.”

“Loh kok bisa?”

Aku adalah orang yang pelupa. Dan sejauh yang aku sadari waktu itu, sifat pelupaku sangat merugikan.

“Iya bayangkan jika kamu tidak punya sifat pelupa, coba ketika kamu disakiti oleh orang lain, maka kamu akan ingat terus rasa itu.”

Aku terhenyak, karena aku tidak pernah mempunyai sudut pandang seperti itu. Dan jika aku pikir-pikir, bapak benar juga.

Misal, aku senang aku lupa kapan mantanku yang terakhir ulang tahun jadi aku tidak perlu repot-repot apakah harus aku ucapkan atau tidak. Aku lupa siapa nama mantan pertamaku. Aku lupa perasaan-perasaanku tentang mereka. Aku pernah kesal dengan seseorang, tetapi aku lupa karena apa, jadi aku tidak kesal lagi dengan dia. Aku lupa tentang banyak hal yang membuatku sedih dan jatuh.

Ah, ternyata lupa tak seburuk itu.

Kadang kita lupa seiring dengan waktu. Aku pikir otak kita memang mempunyai kapasitas yang terbatas dan tidak seperti komputer, kita tidak bisa menentukan apa yang ingin kita lupakan dan apa yang tidak. Yah, manusia memang tempat lupa dan baru kali itu aku baru ngeh apa hikmahnya sifat lupa.

Jadi, ketika kamu sakit hati, patah hati, you just need time. Time heals, eventually. Dan bahkan pada saatnya, kamu mungkin akan lupa bahwa kamu pernah sakit hati.

26 thoughts on “Manusia dan Sifat Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s