Partner Hidup

Semakin aku dewasa, aku merasa hubunganku dengan orang tua bukan hanya sekadar hubungan antara bapak-ibu dan seorang anak. Aku merasa hubungan kami berkembang menjadi partner hidup atau teman. Dulu, orang tua bagiku adalah teladan, tempat meminta saran, nasihat, pokoknya apa-apa yang selalu dituakan. Namun sekarang, orang tuaku pun kadang meminta nasihat dari aku dan kami sering berbagi, seperti teman. Ibuku sekarang sering sekali curhat ke aku, apa saja. Namun kebanyakan adalah cerita-cerita yang beliau tidak bagi ke adik-adikku, karena beliau mungkin menganggap belum waktunya adik-adikku diberi tahu tentang hal-hal tersebut. Sebagai anak pertama, tentu aku terharu dan senang sekali. Aku senang karena merasa dipercaya, sudah dianggap dewasa, dan lain-lain, dan sedih juga karena bayangkan beliau selama memendam beberapa hal sendiri, dan baru kali ini cerita ke aku. Jadi, kami sama-sama saling menguatkan. Walau sebenarnya, dalam beberapa hal aku ingin menangis, tetapi di depan ibu setidaknya tidak aku tunjukkan. Nanti saja kalau aku sendiri atau ketika aku dengan temanku, aku baru mau menangis, if only I feel like I need to.

Ibu paling suka chat di Whatsapp. Kami bukan tipe orang yang suka video call. Aku pikir, kami sama-sama textovert. Biasanya ibu hanya video call jika ada saudara-saudara dari Tumpang datang ke rumah. Biasanya saudara-saudaraku pasti berkata, “Tambah gendut ya sekarang,” dan bertanya, “Makan apa?”, “Ada nasi?”, “Enak di sana?”, “Krasan ora, kerasan tidak?”, “Cari suami bule?”.

Kalau sudah cerita, chat ibu akan sangat-amat panjang sekali dan kadang tidak runtut alur ceritanya. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan telefon. Kami biasanya berkomunikasi pakai Bahasa Indonesia yang tidak formal, sedikit ngoko, dan Bahasa Inggris kadang-kadang. Aku memang dulu tidak dididik menggunakan Bahasa Jawa Krama, jadi aku hanya bisa Bahasa Jawa Ngoko Malangan. Dalam konteks keluarga kami, itu tidak masalah, tetapi mungkin dalam konteks keluarga lain, bermasalah.

Sedangkan bapak, tentu berbeda dengan ibu. Bapak bukan tipe orang yang suka cerita. Akhir-akhir ini aku yang lebih suka cerita lewat chat atau pesan suara, tetapi bapak kalau membalas suka pendek-pendek. Jawabannya jelas, sarat makna, dan tidak ambigu. Kata-katanya pun rapi sekali, ejaannya sering pas KBBI, diawali huruf kapital, dan diakhiri oleh titik. Mungin karena beliau dosen Bahasa Indonesia yang sudah ribuan kali mengkritisi tulisan mahasiswa, sehingga dalam tulisan teks Whatsapp pun beliau jadi terbiasa. Oh, tapi kadang bapak kalau tulis ‘terimakasih’ disingkat menjadi ‘tks’ dan sering kubaca ‘tikus’.

Lalu, walau tidak cerita ke anaknya, aku amati bapak suka cerita ke ibu. Sedangkan aku, untuk hal-hal yang sedikit urgent aku lebih suka cerita ke bapak karena bawaannya tenang dan jawabannya selalu logis dan pas. Kalau cerita ke ibu, ibu selalu khawatir. Dan itu ketara sekali pada teks-teks yang beliau tulis. Bapak khawatir sih, tetapi lebih logis kalau memberi jawaban.

Jadi, gitu yah rasanya jadi anak pertama.

39 thoughts on “Partner Hidup

  1. Wahhh jadi inget bapak ibuk di rumah. Lagi merantau buat kuliah mbak:”
    Saya baru belajar nulis, mungkin bisa mampir ke blog saya mbak fachryalbab1001.wordpress.com minta saran-sarannya juga hehe salam kenal mbak

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s