#NA4 Ayah dan Ibu

Topik tantangan kali ini adalah tentang orang-orang terdekat yang mengispirasi kita, dan tentu saja bapak dan ibu adalah orang terdekat yang menginspirasiku.

Ayah.

Ayah adalah anak pertama, dan aku juga anak pertama. Itu adalah salah satu sebab dan alasan utama kenapa aku menjadikan ayah sebagai panutan. Aku merasa aku dan ayah senasib seperjuangan karena sama-sama anak pertama. Jika kamu tidak tahu rasanya menjadi anak pertama, mari aku jelaskan.

Sebagai anak pertama, aku bertanggungjawab atas adik-adikku, bisa jadi dalam hal apapun, dalam banyak hal. Aku dan ayah sama-sama mempunyai dua adik, satu laki-laki dan satu perempuan. Bedanya, adik perempuan ayah adalah anak angkat nenek, ibunya ayah. Jadi dalam hal tersebut aku tidak tahu apakah ayah juga mempunyai tanggungjawab dan perasaan yang sama atas adik angkatnya itu. Bedanya juga, adikku yang terakhir laki-lak, sedangkan adik ayah yang terakhir perempuan.

Perkara tanggungjawab bisa jadi hal yang paling kecil sampai besar. Perkara kecil misalnya, dalam hal mengepel rumah dan membersihkan kamar mandi aku yang paling dipercayai ayah karena kata beliau aku yang paling ‘bisa’. Aku pun diteter, didiklat, diajari membersihkan rumah sampai bersih. Ayahku orangnya detail, jadi beliau mengajari aku sampai detail, pokoknya sampai sela-sela rumah, kolong kasur, pojokan kamar mandi, harus bersih. Capek sih, apalagi rumahku tiga lantai. Tapi ada rasa senang juga kalau rumah bersih banget. Dan enaknya, skill bersih-bersih bagus. Istriable lah 😌, haha. Selain skill bersih-bersih, aku orangnya juga memperhatikan detail dan perfeksionis, karena ayah juga begitu. Sadar atau tidak sadar, aku mempunyai sifat ayah.

Tanggungjawab yang besar misalnya, ketika ayah dan ibu pergi haji pada 2009 lalu, aku yang menjadi kepala rumah tangga. Aku dinasehati ayah untuk menjaga adik-adik. Oleh karena itu, aku sedikit ‘keras’ dalam memperlakukan mereka ketika tidak ada orangtua waktu itu. Maksudnya misalnya, mereka harus bangun pagi untuk sholat subuh, tidur tidak boleh kemalaman, dan hal-hal seperti itu. Aku sadar betul sebenarnya mereka sebal karena aku bossy, tetapi disatu sisi, itu tanggungjawabku terserah mereka mau marah atau bagaimana.

Selain tanggungjawab, aku merasa anak pertama itu lebih mempunyai inisiatif. Aku pernah baca ini di sebuah buku yang aku lupa judul apalagi siapa penulisnya. Tapi memang itu yang aku rasakan dan begitu pula ayah. Ayah selalu punya ide-ide menakjubkan yang kadang menyebalkan bagi ibu karena terlalu menakubkan, atau ide-ide yang tidak kami pikirkan sebelumnya, misal, “Ayo nonton pengabdi setan!”

Karena kami mempunyai beberapa sifat yang sama, aku sangat kompetitif dengan ayah terutama dalam hal olahraga dan akademik.

Ayah suka olahraga dan aku juga. Kadang beliau mengajak kami berenang di Kolam Renang Sengkaling. Kami selalu beli tiket langganan karena sering ke sana dan lebih murah kalau berlanggaan. Aku selalu memcoba membalap ayah dan aku mesti kalah. Aku berasumsi aku mesti kalah karena ayah jauh lebih tinggi badannya dari aku. Aku juga selalu banyak-banyakan berenangnya mau berapa kali, dan aku sering kalah juga. Sebelum dua sepeda pancal polygon kami dicur pun, kami sering bersepeda ketika har minggu. Paling lama, kami bersepeda selama 2 jam ke Jalan Soekarno-Hatta. Namun, setelah kami kehilangan sepeda, kami lebih sering jogging di stadion Universitas Muhammadiyah karena dekat dengan rumah. Ayah selalu berhasil keliling lapangan 10 kali, sedangkan aku biasanya hanya 6-7 kali, tanpa henti. Namun aku pernah berhasil lari sebanyak 10 kali. Endorfinku sangat kegirangan, tapi kakiku lelah juga.

Dalam hal akademik, menurutku ayah rajin. Beliau SMA hanya dua tahun lalu mendapatkan beasiswa S1 dan S2, lalu mengajar, mendapatkan pekerjaan tetap dan sudah bisa dibilang mapan pada umur 24 tahun. Oleh karena itu, pada umur 24 ayah sudah menikah. Walau waktu itu rumah masih ngontrak sampai aku umur 2 tahun. Tapi, At least, aku sudah menang dari ayah karena aku mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Dan oleh karena itu aku sebenarnya juga pengen menikah muda, dan aku juga tidak menuntut calonku harus punya rumah dulu lah, atau bagaimana. Kenapa tidak berjuang bersama?

Ibu

Dalam beberapa hal, ibu bisa jadi orang yang tidak sabaran dan panikan. Pernah waktu kami ke mall, tempat parkirannya menjulang terlalu tinggi dan mobil kami sempat bermasalah sampai hampir menabrak mobil yang di belakang. Ibu yang sedang duduk di belakang paling panik, berteriak ke ayah, sambil mendorong kursi ayah.

Namun di lain hal, menurutku ibu adalah orang yang sangat kuat karena beliau bisa memaafkan orang-orang yang pernah berbuat jahat kepadanya.

Aku tidak bisa bercerita dengan detail karena aku belum izin ibu untuk menceritakannya di sini. Tapi, tahu ngga sih, di zaman seperti ini masih ada orang yang bermain ilmu hitam. Ada beberapa orang yang membuat ibu sakit seperti itu, selama bertahun-tahun, dan ibu tidak pernah membalas. Kata ibu, ibu tidak apa-apa seperti itu karena melihat anaknya sukses, itu adalah sumber bahagia beliau.

🙂


Hi, you could read other post on Tantangan menulis asyik here:

#NA1: Tantangan Menulis Asyik

#NA2 – Ex-boyfriends

#NA3 – The 6 reasons why I write

#NA4 – Ayah dan Ibu

#NA5 – Kangen Malang

17 thoughts on “#NA4 Ayah dan Ibu

  1. Blog keren seperti ini dengan tulisan yang penuh manfaat adalah modal utama dalam berbisnis online, tidak ada salahnya untuk mencoba Mba…, sekedar saran setelah baca2 postingan. kunjungan baliknya saya nantikan yes 🙂

    Liked by 1 person

  2. Pingback: #NA5 Kangen Malang – Gadis Pratiwi

  3. Pingback: #NA3 The 6 Reasons Why I Write – Gadis Pratiwi

  4. Pingback: #NA2 Ex-boyfriends – Gadis Pratiwi

  5. Pingback: #NA1 Tantangan Menulis Asyik – Gadis Pratiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s