Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari

Minggu pagi sebenarnya sudah aku jadwalkan untuk lari pagi. Namun entah kenapa saat itu aku merasa bosan sekali untuk melangkahkan kaki ke stadion. Alih-alih berolahraga, aku memutuskan untuk menarik selimut dan kembali terlelap. Tidak tidur lagi setelah sholat subuh memang tanntangannya sangat luar biasa.

Aku bangun pukul 7, lalu segera mengecek instagram. Memang kids zaman now. Ternyata ada DM dari Rofi, teman sesama PSLD dan Akartuli, yang mengajak ke CFD (Car Free Day) Malang. Ya tentu aku mau lah. Segera aku mempersiapkan diri dan memesan abang grab. Aku sekarang lebih suka memakai jasa grab daripada jasa ojek online satunya karena lebih murah.

“Jangan lupa bawa helm sendiri” kata Rofi.

Sesampainya di CFD, berlalu lalang orang pacaran, suami-istri bawa anak, orang-orang jualan, dan mbak-mas sales. Ada juga beberapa orang yang membawa anjing lucu-lucu yang sayangnya tidak bisa aku pegang. Ada juga kumpulan-kumpulan pecinta sepeda pancal. Dan banyak orang lain yang sedang berbahagian di sana. Suasana yang pastinya akan aku rindukan.

 

Aku pun memutuskan untuk beli susu segar sambil menunggu Rofi. Aku belum sarapan pagi itu karena aku malas, tapi aku sadar kalau aku tidak makan sesuatu pagi itu, sesuatu akan terjadi pada perutku, maag misalnya. Jadi aku memutuskan untuk membeli takoyaki.

IMG_2317-min

Setelah bertemu dengan Rofi dan muter-muter keliling CFD, kami memutuskan untuk ke Kampung Wisata Topeng. Kata Rofi, wisata ini baru. Maka, aku langsung tertarik. Apalagi topeng merupakan salah satu kekhasan dari Kota Malang.

Kampung wisata topeng yang terletak di Desaku Menanti Kedungkandang. Dari CFD Ijen, perjalanan yang kami tempuh sekitar 1 jam. Perjalanan menuju ke sana sangat menyenangkan karena di kanan-kiri kamu bisa melihat pepohonan. Dan kalau yang asri seperti ini tidak ada di Australia, I guess, haha.

Sesampainya di sana, kami hanya harus membayar parkir sebesar Rp2000,- Namun sayangnya di sana sedikit mengecewakan karena kampung wisata ini masih dalam pembangunan, jadi tidak terlalu banyak tempat yang bisa disinggahi atau dibuat foto. Tetapi ada banyak topeng-topeng yang malang banget. Aku jadi ingat bahwa aku pernah melukis topeng seperti itu ketika SMP.

IMG_2341

IMG_2328

IMG_2348-min

IMG_2350-min

IMG_2333-min

IMG_2343-min

IMG_2453

IMG_2421

Setelah dari situ, kami memutuskan untuk pergi ke coban terdekat dari kampung wisata tersebut, yaitu di Tumpang. Akhirnya kami memilih ke Coban Bidadari karena bersadarkan mbah gugelΒ yang kami cek, banyak foto-foto keren di sana.

Perjalanan ke sana ga kalah keren dari perjalanan menuju Kampung Wisata Topeng, bahkan menurutku jauh lebih keren! Aku ada video yang ingin aku upload di sini, tapi ternyata harus upgrade premium ya kalau update video 😦

Coban ini ada di Tumpang, tapi kami sempat kesasar beratus-ratus meter gara-gara salah arah. Kami malah menuju ke Pakis, bukan ke arah Poncokusumo. Coban ini searah dengan Coban Pelangi. Dari Coban Pelangi masih harus jalan lurus sampai gapura, sekitar 15-20 menit. Sebenarnya dekat, tetapi jalan gronjal-gronjal jadi tidak bisa mengebut. Tiket masuk satu orang Rp10.000,- dan tiket parkir satu motor sebesar Rp5000,-.

IMG_2461

Kata Rofi kayak foto di kebun belakang rumah

Perjalanan menuju air terjunnya memakan waktu sekitar 30 menit. Menurutku, turunnya lebih mudah dari naiknya dan tidak seterjal Coban Talun. Namun ketika aku berbicara terang-terangnya bahwa turunnya gampang, beberapa orang rupanya tidak sependapat denganku.

“Gampang jare.”

“Heh, gampang jare.”

“Opo seh mas,” batinku.

Tapi memang harus super hati-hati karena kalau tidak begitu, akan mudah terjatuh.

IMG_2463

IMG_E2498

 

But, it turns out that the waterfall is as not huge as we thought. Tapi gapapalah, menurutku perjalannya worth it dengan pemandangan kiri-kanan sebelum menuju coban.

Di Coban Bidadari juga ada beberapa spot foto. Jadi, kalau misal tidak ingin ke air terjun, bisa foto-foto saja di bagian atas.

IMG_2584

IMG_2545

seharusnya fotonya kurang ke atas sih, biar bunganya keliatan

Setelah berfoto-foto, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami pun beranjak dan memutuskan untuk makan pangsit di Bakso dan Mie Pak Sulis. Kisaran harga mie pangsit hanya Rp6000,- sampai Rp 10.000,-. Murah dan enak banget!

So, that’s a wrap! See you on the next post fellas! πŸ™‚

 

22 thoughts on “Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari

  1. Jalan2 yang menyenangkan. 😊
    Diantara banyaknya Coban di Malang, aku belum pernah sekalipun ke salah satunya. Meskipun sudah bolak balik ke Malang. Wkwkkw.
    Menyedihkan.

    Eh, gratisan bisa kok mbak upload video.
    Ada pilihannya di upload : media.

    Like

  2. Tepatnya dimna e Dis kampung topeng ? Aku minggu dpan ke Malang heee
    Seru tuh kyaknya , 4 tahu di Malang blm banyak yg aku singgahi hii

    Bdw jangan lupa NA nya 😊
    Semngat nulis, selamat berlibur πŸ˜„πŸ˜Š

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s