Disability is not an Exceptional

Hi! I’d like to talk about disability today 🙂 Sebenarnya ini bukan kapasitasku, tapi aku ingin membagikan apa yang sudah aku pelajari dan apa yang aku pahami. So, have you ever heard about Stella Young? If you haven’t, I suggest you watch this video first before you start reading this post:

I’m not your inspiration.


 

I really like this quote that I took from the video:

“I’m here to tell you that we have been lied to about disability. We have been sold the lie that the disability is a bad thing, and to live with disability,  make you exceptional. It is not a bad thing and it does not make you exceptional.”

– Stella Young

Nah, kita mempunyai persepsi yang berbeda tentang bagaimana menghadapi orang difabel. Ada tiga persepsi yang aku temui di sekitarku. Pertama, persepsi bahwa orang difabel harus selau dikasihani karena mereka tidak normal, kekurangan, dan banyak yang tidak bisa mereka lakukan.

Persepsi kedua, orang difabel adalah orang yang kena ‘kutukan’, I can’t find the exact word but you know what I mean, right? Orang yang dulunya berbuat salah entah dianya sendiri atau orangtuanya sehingga Tuhan memberikan adzab ke orang tersebut. Serius, ada orang yang berfikiran seperti itu, because somebody told me that few years ago. Orang-orang yang mempunyai tipe perspektif yang kedua ini juga berfikiran bahwa semua orang difabel itu harus berbuat baik, kalau dia berbuat buruk maka contoh komentar yang akan dia dapatkan adalah, “Duh udah difabel masih aja ngeyel.” Misalnya seperti itu. Dan bahkan masih ada beberapa orang yang memakai kata cacat ketika menyebut orang-orang difabel, yang aku sendiri merasa risih ketika ada orang yang menggunakan tersebut.

Lalu, persepsi yang ketiga, bahwa semua orang itu sebenarnya tidak normal, bahwa kita sendiri tidak bisa mendefinisikan normal seperti apa, bahwa orang difabel itu adalah orang-orang biasa sama seperti kebanyakan manusia lainnya, bahwa tidak exceptional dan tidak perlu dikasihani berlebihan. Intinya, kita semua manusia yang setara. Perkara normal atau tidak normal, akupun sebenarnya tidak normal karena aku pakai kacamata minus plus silinder, gigiku juga tidak normal karena aku gingsul (which actually makes me cuter, haha 😌😝). Well, normal yang aku yakini hanyalah masalah persepsi.

Aku pernah bekerja dengan orang-orang difabel selama 2-3 tahun, dan itulah yang membentuk persepsiku menjadi seperti sekarang ini. Awalnya aku juga berfikir bahwa mereka semua orang baik-baik, turns ot, they can be a jerk too, they can be so annoying. And thats actually very normal because they are human. Kadang kita sering lupa bahwa mereka juga manusia yang sama seperti kita. Mereka hanya berbeda dalam beberapa hal dari kita dalam melakukan sesuatu, tapi bukannya memang semua manusia itu berbeda? Itu karena dari kecil kita sudah terbiasa pada stigma-stigma tentang disabilitas dan karena kita terlalu fokus pada medical model of disability daripada social model of disability, seperti yang Stella bilang, we are more disability by society than our body. Nanti aku ceritakan tentang medical dan social model of disabilit di post selanuya, or you can just google about it. 😌

Dan ngomong-ngomong, salah satu mantanku difabel. Banyak sekali orang yang bilang kalau aku baik banget karena bisa menerima dia. Baik banget? Menerima dia? Well, karena seperti yang aku bilang aku sering bergabung dengan teman-teman difabel, aku pacaran dengan dia bukan karena kasihan, tapi karena aku (pernah) suka dengan dia.  Ketika kami nge-date, aku sering tidak merasa nyaman karena banyak orang-orang yang ngeliatin kami, kalau dia mah sudah biasa katanya. Yak, malah curhat mantan. 😌

So, I’m here, like stella young, want to change your perspective, that disabled people aren’t exceptional. They are here not to inspire you. Orang difabel ada bukan untuk menginspirasi. Parahnya, kita sering merasa terinspirasi oleh mereka karena kita merasa keadaan kita tidak lebih buruk dari dia. Padahal faktanya orang difabel hanya melakukan hal yang sama seperti kita, hanya caranya saja yang berbeda. Misalnya seperti mantan aku, karena salah satu kakinya di amputasi, dia harus pakai crutches untuk berjalan. And I don’t see it as a problem, aku selalu berfikiran bahwa dia hanya orang normal yang cara jalannya saja berbeda.

However, you can have a different perspective with me. It’s a choice and you will always have a choice. Intinya, apapun perspektif kamu, kita tetapi harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Dan hendaknya kita tidak fokus pada apa yang tidak bisa dilakukan orang difabel dan membatasi mereka dalam melakukan hal tertentu karena kita yakin mereka tidak bisa melakukan beberapa hal, tetapi kita hendaknya fokus membuat lingkungan lebih inklusif, sehingga orang-orang difabel bisa setara dan mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang non-difabel.

 

stella-young-quote1-circle-1024x1024

source: tipping.org.au/wp-content/uploads/2016/12/stella-young

7 thoughts on “Disability is not an Exceptional

  1. I agree on most of your perspective, especially normal. Definisi normal yang ada di masyarakat adalah pandangan umum nya orang-orang yang dibuat oleh orang-orang yang merasa dirinya normal. Apakah sebenernya mereka normal? who knows… karena ga banyak orang yang mau mengakui kalo berbeda itu menarik 🙂 dan sama itu membosankan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s