Perkara Sholat

To be honest, I don’t really know what to write on my research paper, so I decide to write about this. šŸ˜

Di Indonesia, kalau ingin sholat sebenarnya sangat mudah. Niat, angkat kaki, cus berangkat. Kalau misalnya kamu lagi jalan-jalan di luar pun, tempat sholat mudah ditemukan. Bahkan kadang kita bisa memilih mau sholat di masjid Muhamma****h atau N*, misalnya.

Sementara itu, di Australia, tempat sholat tidak sebanyak di Jawa yang setiap meter pasti ada saja tempat sholat. Sehingga aku jama’ sholat ketika tidak menemukan tempat sholat dan tidak memungkinkan untuk sholat di tempat tersebut.

Beberapa religious room yang pernah aku singgahi untuk sholat selama ini adalah religious room di Southern Cross statiton; Madinah Melbourne, yang merupakan mushola, di Melbourne CBD; Monash Religious centre, yang paling sering; dan Westall Mosque.

Lalu, sejauh ini aku sudah lima kali, seingatku, sholat di tempat umum yang bukan tempat sholat, *apasih, ya you know what I mean lah guy, karena itu tadi, tidak ada tempat sholat dan waktu sholat udah mepet banget, jadi pokoknya harus sholat.

Yang pertama ketika pergi ke Philip Island, kami mampir ke Churchill Island. Waktu itu sudah waktunya ashar, jadi kami harus jama’ dhuhur dan sekaligus sholat ashar. Kalau maghrib, kami rada santai gitu karena bisa dijama’ dengan isya di rumah. Waktu itu kami mencari tempat yang agak sepi dan mojok, dan akhirnya kami memutuskan sholat di rerumputan. Sebenarnya aku agak malu kalau harus sholat di tempat umum yang pastinya dilihatin banyak orang, because I’m worried about what they think about us, tapi karena waktu itu berjamaah, aku nggak malu.

Kedua, aku pernah sholat di pantai. Sebenarnya waktu itu kami berencana ke Luna Park, tetapi tempat tersebut sudah tutup ketika kami datang. Akhirnya kami ke St. Kilda Beach dan aku ingat banget karena waktu itu masih winter, wudhu di tempat pancuran atau semacam public shower, it was freaking cold! Setelah itu kami mencari pojokan untuk sholat dan agak sulit karena dimana-mana banyak tahi anjing. Tapi akhirnya kami sholat di arena barbeque. Karena tempat itu sepi dan gak sendiri, aku gak malu sholat disana.

Yang ketiga, aku pernah sholat di ruang ganti baju. Aku dapat ide ini dari senior. Senior aku pernah bilang, kalau sholat di changing room memungkinkan karena ruangannya biasanya besar sampai kamu bisa selonjor, well di beberapa toko baju sih iya. Namun, kalau tidak memungkinkan ya bisa duudk, kan. Dia cerita, parahnya dia malah pakai baju di toko tersebut buat alas sholat, gilak gilak gilak. Kalau aku waktu itu karena tempat ganti bajunya tidak bisa dibeber sajadah, aku sholat sambil duduk, dan waktu itu ada tempat duduknya juga.

Lalu, yang keempat aku pernah sholat di kereta. Waktu itu kami berangkat setelah dhuhur untuk menonton footie gratis di Etihad Stadium. Ketika dhuhur, aku dan tidak jama’ ashar karena kami pikir bisa cari tempat sholat entaran kalau udah di city. Di perjalanan, dan waktu itu sudah waktunya sholat asar, teman aku ajak sholat ashar di kereta aja. Untungnya aku sudah wudhu, tetapi dua teman kami non-muslim. Dan sekali lagi aku khawatir tentang apa yang bakal mereka pikirkan kalau aku sholat di situ, would they think that I’m weird? Tapi yaudahlah, toh aku tidak sholat sendiri. Akhirnya aku dan temanku sholat di kereta, dan temanku yang non muslim biasa aja sih mereka.

Nah, terus kalau hari ini, aku dan temanku sholat di Perpustakaan Clayton. Di daerah Clayton shopping center ini, benar-benar tidak ada tempat sholat. Di perpustakaannya sendiri tidak ada quiet room. Sebenarnya ada meeting room yang bisa dipakai, tetapi kalau pinjam ruangan itu walau hanya 15 menit, harus izin dulu dan aku malas. Masa iya harus balik ke kampus lalu sholat disana? Padahal kami udah pewe banget buat belajar. Ada sih alternatif lain, di Man O-Salwa, restauran Turki, tapi kami harus beli sesuatu dulu di sana, masa iya nebeng sholat doang. Atau di restorant indo, Dapur Indo, aku berasumsi ada tempat sholat di sana.

Dan akhirnya kami sholat di perpustakaan, di pojokan. Sebenarnya aku agak malu sih, tetapi yaudahlah I did not do something that whould hurt people, nothing to be ashamed for. šŸ™‚

Thats it! See you on my next jibber jabber!

Back to the research paper!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s