PPL: Lian

PPL: Lian

Hai, sudah tidak ini sudah hari ke 27 aku PPL di salah satu SMP swasta di kota kelahiranku. Seharusnya ini ceritaku yang ke #27 karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dari hari perta,a untuk tetap menulis semua kejadian disini, tetapi apa boleh buat. Sejak skripsi memanggil, aku lebih memilih menulis skripsi daripada blogging. Padahal sebenarnya tetap ingin menulis disini, tetapi tidak ada waktu. Selain itu, menjadi guru itu ribet lo (yang profesional tentunya).

Sebelum mengajar, guru harus menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang proses pembuatannya lebih lama daripada jam mengajarnya yang hanya 40 menit sampai 80 menit untuk satu kali pertemuan. Harus menyiapkan media, harus belajar materinya biar kalau misalnya ditanyain siswa ngga keliatan kagok. Harus menyiapkan mental dan menyiapkan diri sendiri gimana caranya biar percaya diri. Kalau jadi guru harus percaya diri atau at least ‘keliatan’ percaya diri. Kalau nggakya siap-siap aja di-bully.

Aku sendiri tipe guru yang santai tapi serius, tetapi aku ngga suka marah-marah di kelas atau menghukum murid yang ‘nakal’. Aku ngga percaya dengan menghukum siswa secara fisik, seperti yang dilakukan sebagian besar guru disana, akan membuat siswa kapok dan bertaubat. Aku terserah-terserah aja, yang penting mereka mendengarkan dan tetap respect ke aku. Mungkin karena ini aku merasa murid-murid lebih dekat ke aku. Kalau ada teman-teman, kemudian ada aku aja, yang disapa aku aja. Dimintain pin BB, dimintain ngajar ke kelas mereka, begitulah.

Ada Lian juga yang minta pin BB-ku. Dia salah satu murid di kelas 9E. Di kelas 9E, aku hanya mengajar satu kali, tetapi pernah beberapa kali ke kelas tersebut menemani temanku yang mengajar disana. Tetapi kayaknya cuman aku yang dimintain pin BB oleh anak-anak kelas 9E termasuk Lian.

Kalau di kelas, Lian anaknya memang memperhatikan, tetapi dia super rame. Namun aku tau kalau anak yang seperti itu biasanya emang caper atau cari perhatian. Kadang-kadang aku panggil namanya untuk menjawab beberapa pertanyaan. Dia tidak pernah bisa menjawab jadi selalu aku alihkan ke Reza. Reza, muridku yang super banget, tetapi cerita kali ini tentang Lian dulu. Lian yang caper, tinggi, lucu, dan suka ramai sendiri.

Nah, dia minta pin BB-ku kan sejak 2 atau 3 hari lalu, aku lupa tepatnya kapan. Sejak saat itu dia nge-chat aku terus. Kalau tidak aku balas atau aku read saja, pasti dia chat lagi, dan begitu seterusnya. Namun, untungnya dia nggak aneh-aneh, seperti nanyain udah makan atau belum. Kalau dia chat, dia selalu cerita tentang apapun. Dan yang paling pertama bikin aku kasihan dan miris banget ketika dia cerita asal-muasal dia ngerokok. Ketika itu, pukul setengah 11 malam, dia masih nongkrong sama temannya sambil rokokan dan minum kopi.

Aku memposisikan diri sebagai teman dia, aku bilang ke Lian, “Cewek-cewek gasuka cowok yang rokokan loh dek.”

Dengan polosnya dia berkata, “Mamaku rokokan kok miss.” Aku langsung diem. ShockSpeechless. “Semua keluargaku rokokan semua.” Kemudian dia menambahkan, “Saya diajarin mama tambahan. Aku di ece mama ginimosok lanang nggak rokokan, yo guduk lanang“, yang artinya begini: aku diejek oleh mama, masa anak laki-laki tidak merokok. Kalau anak laki-laki tidak merokok ya bukan laki-laki.

Padahal menjadi laki-laki tidak perlu merokok.

Ini juga kenapa malah mamanya yang mengajari merokok. Sekolah melarang habis-habisan siswa merokok, tetapi susah juga kalau ternyata keluarga mendukung untuk merokok. Dan lingkungan dia seakan-akan berkata bahwa merokok untuk anak seusia dia itu wajar. Jadi, aku agak maklum kalau dia merokok dan pemikiran dia yang menyatakan bahwa merokok itu tidak salah. Namun, sebenarnya aku ingin banget menyadarkan dia bahwa, plis jangan rokok, masa depanmu masih panjang nak, tetapi gimana aku mau menasihati Lian kalau lingkungan dia seperti itu.

Namun, masalah rokok itu cuman masalah yang paling ringan yang Lian punya, menurutku. Dia berasal dari keluarga kaya raya, tetapi orang tua dia cuman ngasih uang dia buat foya-foya tetapi tidak pernah dididik. Dia sering pulang pagi dan tidak  pernah dicari atau dimarahi orang tuanya. Dia sering main-main kemana-mana. Kadang-kadang juga diajakin judi sama temen-temennya. Judi, loh judi. Dia sering cerita uangnya untuk foya-foya, karakoan, beli rokok, dan ekstasi.

Aku gatau ini ekstasi beneran, atau dia cuman sugarcoat.

Akses ekstasi gampang sekali. Bahkan dia sudah jadi reseller. 10ribu saja sudah dapat 9 pil. Lebih murah kan daripada sebatang rokok atau makanan yang halal dan sehat. Gimana anak-anak ngga tertarik untuk beli? Lian pernah pakai ekstasi, tetapi aku tidak tahu seberapa sering dia konsumsi itu. Kalau minum-minuman keras dia tidak pernah, katanya. Katanya sih, yang aku lebih banyak tidak percayanya. Kalau dia miras, nanti dipecat jadi tim sepak bola. Bakat Lian sebenarnya di bidang sepak bola. Dia pernah memenangkan kejuaraan lomba dua kali berturut-turu di tingkat sekolahan. Namun, sayangnya ya itu, dia merokok dan konsumsi ekstasi.

Oh, muridku.

Ah, Lian juga pernah cerita dia tawuran dengan anak SMA. Entah masalahnya apa. Si anak SMA itu sampai matanya berdarah. Dia pernah memukuli habis-habisan teman satu kelasnya karena mencuri HP tiga kali. Sampai sekarang temannya tidak mau masuk sekolah.

Ah Lian, dia menceritakan semua itu dengan polosnya seakan-akan itu hal yang biasa dan tidak ada salahnya. Yang bagiku itu adalah masalah besar.

Aku merasa dia belum bisa ngebedain mana yang benar dan mana yang salah karena dia hidup di lingkungan seperti itu.

Gimana aku mau menasihati Lian bahwa hidup ini adalah ada pertanggungjawabannya. Hidup ngga cuman seneng-seneng. Gimana aku mau menasihati Lian, bahwa hidup itu ada tujuannya. Bahwa nanti kita ngga bisa minta uang ke orang tua terus. Gimana aku mau menasihati Lian, kalau punya cita-cita itu penting, sekolah itu penting, kita ga bisa sia-siain waktu begitu aja. Gimana caranya ngasih tau dia kalau sholat itu penting, kalau judi itu salah, kalau berantem sampai buat orang lain berdarah-darah itu salah. Gimana caranya ngerubah dia jadi orang baik-baik.

Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s