PPL: Hari ke-satu

PPL: Hari ke-satu

Hari ini adalah hari pertamaku PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di salah satu SMP swasta kabupaten dan rencananya, aku tidak akan melewatkan stau haripun tanpa menulis diary tentang apa yang terjadi hari ini. Well, rencananya sih gitu, hihi ūüėÄ Tidak tahu lagi kalau tiba-tiba aku menghilang tanpa jelas.

Nah, SMP swasta tempat aku PPL ini selalu di-underestimate¬†dan dianggap buangan, teman. Termasuk ayahku juga bilang gitu, karena berharap aku PPL di sekolah-sekolah unggulan. Orang-orang itu selalu dibilang, ‘Ah, anak-anak yang sekolah disitu mesti nakal-nakal, bodoh,¬†ndeso.’ Sedangkan aku yang sudah ditempatkan disana, mencoba berfikir bahwa toh mereka masih SMP. Mungkin mereka nakal karena orang tua kurang perhatian dan kurang memberi arahan. Mungkin mereka nakal karena sudah di cap anak nakal. Mungkin mereka nakal karena tidak diberi kesempatan untuk berbuat baik. Pada dasarnya aku yakin mereka semua punya sifat ata karakter yang baik, tinggal kitanya bagaimana, apakah bisa membimbing dan mengeluarkan sisi-sisi baik mereka?¬†We’ll see.¬†Yang penting¬†positive think¬†dulu.

Kemudian, kami ber-12 harus steady di sekolah pada pukul 6.30 pagi dan ikut upacara. Ada kegiatan yang membuat aku shock di kegiatan upacara hari ini.

Ada seorang bapak guru yang sepertinya petugas tatib (tata tertib) di pagi itu. Karena banyak siswa yang tidak memakai topi, bapak itu menjeweri mereka satu persatu baik laki atau perempuan di hadapan seluruh peserta upacara. Kemudian yang perempuan yang memakai anting-anting, ditarik antingnya. Lalu, bapak itu mengecek-i kaos kaki-kaos kaki seluruh murid apakah panjang atau pendek, apakah ada tulisan SMP-nya atau tidak. Karena siswa perempuan memakai rok panjang, bapak itu langsung saja menyikap rok siswi tersebut. Kan tidak sopan.

Aku shock. Di zaman kurikulum 2013 dan pendidikan semaju ini masih ada guru yang seperti ini. Selama ini, yang aku yakini adalah jika guru mengasari siswa seperti itu maka siswa akan mempengaruhi psikologi siswa. Lagian kasihan tau, mengasari siswa seperti itu. Apa hak guru boleh memukul siswa? Guru wajib mendidik dengn baik dan benar, menjadi role model. Rumit kan menjadi guru? Banget. Aku sadar setelah menjadi mahasiswa pendidikan.

Selesai upacara kami rapat sebentar dengan kepala sekolah dan beberapa guru membahas hal-hal yang harus kami lakukan. Overwhelmed. Harus membuat program tahunan, program semester, silabus, RPP, membuat lomba segala, dll.

Kemudian kami diserahkan ke guru pamong untuk pembinaan dan penjelasan singkat tentang RPP. Sekolah ini masih pakai KTSP loh, hiks padahal enakan ngajar pakai kurikulum 2013.

Siangnya kami observasi di kelas. Aku shock lagi, karena guru mengajar tanpa RPP dan langsung mengajar tenses explicitly tanpa disertai contoh yang jelas dan banyak. Siswa diajari rumusnya dan pengajaran sangat teacher-centered. Padahal kami selama ini diajarkan untuk tidak mengajar seperti itu, tetapi aku baru tahu kalau kenyataan di lapangan seperti ini.

Setelah istirahat, kami langsung disuruh melanjutkan kegiatan belajar-mengajar tenses tadi. Jeng jeng jeng, mana aku belum belajar lagi. Selain itu kami ber-lima sedangkan hanya aku dan Beby yang mau ngajar. Hmmm. Murid-muridnya memang ramai, tapi mereka excited sama guru-guru PPL, cuman bahasa inggris mereka masih dasar banget.

Well, that’s what happened today, saatnya tidur, besok pagi lagi. Bye.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s