Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (part II)

Pada tanggal 28-30 Agustus 2015 ada kegiatan Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) di PSLD UB. Karena aku sudah di Malang dan volunteer yang lain masih liburan, otomatis aku diminta datang ke kantor untuk bantu-bantu urus administrasi dan lain-lain.

Kami (aku dan volunteer-volunteer yang lain) diharuskan datang pukul 7.30, tetapi aku datang satu jam lebih awal karena bareng dengan adik-adik nyebelin yang udah masuk sekolah pukul 6.30. Datang di kampus aku wifi-an dulu di kafetaria. Selama tiga hari itu, aku selalu bertemu Kiky, teman seperguruan tapak suci dulu. Dia lagi push up, back up, lompat tali, begitu seterusnya. Otot-ototnya kekar banget dan aku jamin perutnya pasti six pack. Macam cowok L-men dia. Dan selama tiga hari itu, aku juga bertemu si Afif. Teman sekelasnya Ifa dkk di mata kuliah Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Dia kalau lari lucu banget. Lari sambil tangannya kayak lagi mukul-mukul manja terus rambut panjangnya berkibas kemana-mana. :3

*maafkan aku fif

Pada pukul 7.30 aku menuju kantor. Ternyata sudah banyak orang tua dan calon mahasiswa yang menunggu, sedangkan kantor masih tutup. Selama tiga hari itu yang giliran membaca kunci kantor pasti telat. Dan selalu aku dan Mbak FD yang datang lebih awal.

Akhirnya Mbak Lis datang 20 menit kemudian yang berujung pada omelan Pak . Setelah itu aku dan Mbak Inok, Lisa, Mbak Anas, mengurus bagian verifikasi data. Ada 24 calon mahasiswa dan verifikasi data membutuhkan waktu yang lamaaaaa.

Aku bertemu dengan berbagai macam orang tua. Karena aku di bagian verifikasi data, otomatis aku tau penghasilan bapak-ibu itu setiap bulannya. Ada yang sangat mampu, ada yang mampu, dan kurang mampu. Rasanya terharu kepada bapak-ibu tersebut. Walaupun anak mereka difabel, mereka tidak menyerah dan mempunya cita-cita masa depan yang tinggi untuk anaknya. Bahkan, ada yang cuman punya usaha warung kelontong kecil-kecilan, tapi rela ke UB jauh-jauh. Mengurus ini-itu, membayar biaya pendaftaran yang lebih mahal dari seleksi biasa, cuma demi sang anak mendapatkan kesempatan untuk kuliah. Terharu!

Nah, kalian-kalian juga yang bisa kuliah dengan lancar, tidak punya dissability, nggak malau kalau males kuliah?


Pada hari ke-dua, 29 Juli 2015, kami mengadakan simulasi perkuliahan kepada calon mahasiswa baru. Ada tuna netra, tuli, cerebral palsy, autis, ADHD, tuna daksa, dan tuna grahita. Pada simulasi ini dijelaskan mekanisme perkuliahan jika mereka lolos dan bisa kuliah di UB. Apa saja hak dan kewajiban mereka, serta hak dan kewajiban pendamping/volunteer. Mereka akan didampingi oleh volunteer selama 6 semester saja, selanjutnya mereka diharuskan untuk mandiri,

Sambil simulasi, kami membawa lembar penilaian untuk lima indikator. Apa saja? Rahasia dong. :3 Masing-masing volunteer menilai 4 calon mahasiswa difabel. Setelah simulasi oleh Bu Alis ada materi dan kemudian calon mahasiswa diberi tugas essay dengan tema memperjuangkan hak disabilitas.

Sambil melihat mereka menulis, aku dan Mas Jaka berkeliling. Ada 3 calon mahasiswa yang autis. Ketiganya memilih jurusan bahasa. Pertama, Robi. Dia ini lucu banget sumpah. Masih imut kayak anak-anak. Aku dan Mas Jaka gantian ngajak ngobrol pakai Bahasa Inggris dan bisa menjawab dengan baik. Kalau dia ada yang tidak paham, baru kami switch dengan Bahasa Indonesia.

Kedua, ada Ari. Dia cerita dia suka Bahasa Jerman. Terus aku bilang,

“Guten Morgen.”

“Selamat pagi” kata Ari.

“Guten Tag.”

“Selamat siang.”

“Guten nacht.”

“Selamat malam.”

Terus aku dan Mas Jaka tepuk-tepuk. Ternyata dia ngerti.

Setelah itu kami menghampiri ke Rini. Dia memilih jurusan Pendidikan Jepang dan Bahasa Jepang. Meskipun Mas Jaka habis dari Jepang, dia bisanya ngomong arigatou-arigatou doang. Kemudian dia suruh aku ngajak bicara ke Rini.

“Konichiwa. Watashi wa Gadis desu.”

“Hajimemashite. Watashiwa Rini desu. Yoroshiku onengaishimasu.”

Setelah itu kami kembali tepuk-tepuk. Terus tiba-tiba dia nunduk. Aku tanya, “Kamu kenapa?”

“Grogi.”

Terus jadi kami pergi deh.

Hari ke-tiga, diadakan wawancara untuk calon mahasiswa dan orang tua murid. Aku yang bahasa isyaratnya paling parah malah kebagian mahasiswa tuli terbanyak, tetapi untungnya Mbak Nay, partnerku, bisa bahasa isyarat juga. Nah, kami mewancarai 6 mahasiswa. 5 tuna rungu dan 1 tuna netra. 2 mahasiswa tuli (si A dan B) diantaranya tidak bisa dan tidak terlalu bisa bahasa isyarat, tetapi justru itu masalahnya. Si A -anak Jakarta- tidak terlalu bisa bahasa isyarat, malah fasih-an aku. Jadi kalau komunikasi ke dia harus pelan-pelan, dan di eja satu-satu per huruf. Komunikasi dia ke kami tidak pakai bahasa isyarat -_- tetapi bahasa kalbu.

Yang ke dua si B -si anak Mojokerto-. Dia memakai alat bantu dengar jadi bisa dengar sedikit dan tidak bisa memakai bahasa isyarat sama sekali. Namun itu juga masalahnya. Dia sering tidak paham pertanyaan kami apa, dia sering salah paham, kami sering tidak mengerti maksud dia apa, dia sering kesal sendiri. Wawancara terlama karena at least kami harus mengulang pertanyaan sampai tiga kali.

Wawancara ke-tiga. Dia memakai alat bantu dengar juga, tetapi dia tetapi tidak dengar. Mungkin dia hanya bisa mendengar ketukan-ketukan begitu. Dia memakai bahasa isyarat. Seharusnya tidak ada masalah, tetapi dia tetap susah paham maksud kami.

“Kenapa memilih jurusan xxx?”

“Karena pilih suka xxx.”

“Iya, mengapa?”

“Karena saya suka xxx.”

Aku dan Mbak Nay mulai lelah.

Ketika aku dan Mbak Nay mulai putus asa, untungnya wawancara ke-4 mahasiswa D pinter banget. Dia nyambung apa yang kami tanyakan dan jawaban selalu tepat. Namun sayangnya dia kurang cocok dengan jurusan yang dia pilih, karena kognitifnya nggak kesana. Kami merekomendasikan dia ke jurusan yang lain.

Wawancara yang ke-lima. Waktu itu sudah jam 12 siang, jadi aku keluar dan Mbak Nay wawancara, karena aku lihat dia bisa sendiri. hoho :3.

Wawancara terakhir, wawancara Mas F yang tuna netra. Setelah ngobrol sama Mbak Nay, giliran wawancara sama aku. Karena dia pilih Bahasa Inggris, jurusan aku, aku ajak dia ngomong Bahasa Inggris. Agak kaget juga waktu dia jawabnya Bahasa Indonesia dan itu jawabnya tidak jelas, padahal aku pikir dia bisa. Pada pertanyaan ke-dua dia malah tidak mengerti maksudku. Akhirnya aku switch ke Bahasa Indonesia. Dan dari 16 tenses, dia cuma tau tiga. Yah yang simple simple itu doang.

Dia tidak terlalu aku rekomendasikan ke Pendidikan Bahasa Inggris, tetapi untung dia milih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia juga, jadi itu yang aku rekomendasikan. Waktu mau diwawancara dosen Bahasa Indonesia, eh dia sudah pulang.

Selama wawancara ke-lima mahasiswa tersebut, si Ari dan Robi distractor banget.

Ari di wawancarai oleh Bu Ira. Ada percakapan yang menggelitik.

Bu Ira: Ari suka Bahasa Inggris ya?

Ari: Iya, Bahasa Inggris.

Bu Ira: Kenapa?

Ari: Soalnya nanti kalau masuk Bahasa Inggris ada Bu Ira, Mbak Gadis, Mas Jaka ..

Waktu itu aku lagi wawancara mahasiswa C, maksudnya apa coba. gagal paham. Terus si Robi karena memilih DKV (design komunukasi danv visual) diharuskan menggambar. Ditengah-tengah menggambar sketsanya ..

Robi: Sketsa, bosen.

Bu Ira: Oh, iya ngga papa. Ga diwarna?

Robi: Diwarna?

Bu Ira: Iya.

Terus dia kembali mewarnai.


Sesudah itu, setelah semua selesai kami bisa istirahat.

Mas Jaka kasihan sama mereka karena tidak semua akan diterima di UB, namun memang kenyataan tidak diterima semua karena berdasarkan pengalaman-pengalaman kakak tingkat mereka ditakutkan gampang masuknya ‘susah keluarnya’. Karena ada kakak tingkat mereka yang semester 7 sekarang tetap merasa kesulitan dan kurang bisa mandiri. Terus apalagi sih yang disusahin? Skripsi. Coba ada jalur non-skripsi, aku yakin mereka semua bisa masuk. Untuk mahasiswa tuli, kadang kalimat mereka bolak-balik, kan kalau skripsi repot juga. PSLD sudah memberikan layanan les gratis, namun kakak tingkat mereka ga ada yang datang. Untuk mahasiswa autis, ujian tengah semester aja mereka kesulitan banget memahami soal-soal yang penuh teori dan abstrak. Namun ya begitulah. Penuh dengan teori.

“Tapi kalau merek tidak diterima kita yang diskriminasi.”

“Tetapi kalau kita memberi pemakluman-pemakluman di dalam kelas, kita juga diskriminasi. Itu bukan kelas inklusif.”

#CMIIW

Lalu aku berfikir, seharusnya kalau mau merintis lulusan yang bagus, harus dari awal kan? kenapa PSLD (Pusat Layanan dan Studi Disabilitas) nggak diadakan dari SD aja? Kemudian Mbak FD bilang dulu pernah ditanyain ke bagian bla-bla-bla, dan jawabnya … err rumit dah.

That’s it. Have a great weekend semua! Pengumuman mahasiswa yang lolos jalur SPKPD UB akan diumumkan besok di psld.ub.ac.id.

Semoga yang lolos yang terbaik dan yang tidak lolos, aku sangat menghargai usaha mereka. :’)


ps: nama-nama diatas bukan nama asli, karena dikhawatirkan akan menganggu privasi. :mrgreen:

5 thoughts on “Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (part II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s