Trust Allah, but Tie Your Camel

Trust Allah, but Tie Your Camel.

– Prophet Muhammad

May the peace and blessings of Allah be upon him.

(Tirmidhi)

hadist

Karena Bulan Ramadan, aku mengganti foto Kurt Cobain yang ada di dekstopku dengan hadist ini. Pertama kali membaca hadist ini, jidatku mengernyit dan harus membaca berkali-kali, baru paham.

Percaya kepada Allah, tetapi ikat untamu.

Bahwa kita harus berikhtiar kepada Allah, baru bertawakal kepada-Nya. Ikhtiar berarti kita berusaha terhadap sesuatu yang kita mau atau kita inginkan dan tidak berputus asa, sedangkan tawakal artinya pasrah kepada Allah SWT. Bukan hanya perkara unta saja, tetapi perkara kehidupan sehari-hari seperti jika ingin pintar, maka belajarlah, jangan hanya berdoa dan pasrah saja atau meminum abu buku yang sudah dibakar ~

Ada cerita tentang ikhtiar dan tawakal ini.

Ramadhan tahun lalu, keluarga kami kehilangan tiga pasang sandal di masjid. Pertama yang kehilangan adikku yang laki-laki, beberapa hari kemudian aku yang kehilangan, dan yang terakhir ibuku yang kehilangan. Waktu itu bete maksimal. Bukan karena kehilangan sandalnya, tapi malah saya yang dimarahi habis-habisan karena sandal saya dicuri. Dan sandal itu baru beli kemarinnya. Padahal apa salah saya -_- Ketika adik saya dan ibu yang kehilangan, responnya malah biasa saja. *feeling meh*

Padahal masjid, tempat ibadah, sempat-sempat saja orang-orang itu mencuri sandal. Bulan Ramadhan pula. Memang harga sandal tidak seberapa, tapi kan malu kalau pulang tarawih terus nyeker. Apalagi di jalan kadang ada paku, atau jalannya kasar berbatuan, sakit kalau tidak pakai sandal. (Apalagi kalau malah kena amarah). Yasudah, saya hanya pasrah dan bisa memaafkan.

Kemudian Ramadhan tahun ini, seperti biasa kami tarawih bersama-sama di masjid. Lah, dua minggu lalu, adik laki-laki saya kehilangan sandal. Waktu itu respon ayah biasa dan pasrah saja. (Alhamdulillah ramadhan ini lebih sabar). Satu minggu kemudian saya yang kehilangan. Rasanya percaya tidak percaya sandal sudah hilang (lagi). Setelah dicari-cari tidak ada, akhirnya pulang tanpa alas kaki. Keesokan harinya (kemarin, 12 Juli 2015), sandal adik saya yang perempuan yang hilang. Saya ketawa ngakak aja.

Rupanya pencuri sandal ini semakin gencar mencuri ketika 10 hari akhir ramadhan. Yang dicuri sandal bagus-bagus pula. Memang ayah saya melarang kami untuk memakai sandal ala kadarnya -seperti merk sky**y- jika pergi ke masjid. Benar juga sih, jika pergi ke mall atau silaturahmi pakai sandal atau sepatu bagus-bagus, kenapa kalau pergi ke masjid yang dipakai malah sandal jelek?

Walaupun sandal adik saya yang perempuan kemarin itu hilang, kami tetap mengadakan buber ronde II, karena adik saya semua kemarin sudah khatam Al-Quran. Kali ini ibu yang teraktir. Namun suasana bahagia itu jadi agak suram gara-gara sandal yang hilang. Saya bisa lihat wajah bete mama. Yang paling terlihat bahagia Gatha -adik saya yang laki-laki-, karena dia bisa makan ayam crispy dan susu coklat. Saya dan Gandi -adik saya yang perempuan- juga bahagia-bahagia aja sih, tapi saya resah karena mama aduh bete abis dah.

Waktu itu sempat terjadi diskusi, enaknya pindah ke masjid yang mana. Akan tetapi ayah bilang, “Kita jangan menyerah, taraweh tinggal sedikit lagi.”

Terus aku menyahut, “Iya ya, yang salah bukan masjidnya, tapi orangnya.”

Akhirnya untuk berikutnya kami fix tetap akan sholat tarawih di masjid yang sama, tetapi dengan strategi yang berbeda, yaitu sandal dimasukkan kresek lalu dibawa masuk ke masjid.

Ribet memang. Dan saya pernah satu kali menertawai nenek-nenek yang mengkreseki sandalnya lalu dibawa ke dalam masjid. Padahal sandalnya merk sky**y. Namun sebenarnya mungkin Allah SWT sudah menunjukkan kepadaku bahwa, biar sandalmu nggak hilang, ituloh kamu masukin kresek aja. Jangan pasrah sandal hilang-hilang mulu, tetapi berusaha dulu agar tidak hilang.

Jadi, tarawih nanti fix siap-siap kresek untuk sandal. Dan setelah keluarga kami kehilangan sandal ketiga kalinya di Ramadhan ini, saya ingat hadist yang ada di dekstop saya itu. Trust Allah, but tie your camel. Dalam kasus saya berarti,

Trust Allah, but kreseki your slipper.

9 thoughts on “Trust Allah, but Tie Your Camel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s