Cinta ya Cinta

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

“Apa buktinya?”

Leo menghela nafas. “Sudah lima tahun kita bersama, masih saja kau bertanya kecintaanku padamu. Bukannya kesetiaanku sudah menjadi bukti?”

Perempuan itu pun tersipu malu. “Kamu cinta aku kan?” tanyanya dengan manja.

“Iya. Aku harus bilang berapa kali yang?”

“Tapi aku mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Tapi kamu cinta aku kan?”

“Bagaimana aku tidak bisa mencintai perempuan yang semanja dirimu ini?”

Tyas tersipu kembali. “Baiklah, sebelum kita bersama selamanya mengucapkan janji cinta, aku akan memberitahumu sesuatu.”

“Apa itu, Yas?”

“Dulu aku ..”

“Masa lalumu? Aku mencintaimu seutuhnya, dulu, sekarang, maupun nanti.”

Tyas menarik nafas, menelan ludah, menenangkan dirinya, kemudia berkata, “Dulu aku laki-laki, Yo. Dulu aku Tyo, bukan Tyas.”

Jantung Leo seakan berhenti bergerak. Mulutnya menganga, matanya setengah melotot, lalu kerongkongannya tersedak air liurnya sendiri. Dia batuk-batuk sedikit, mengatur nafasnya, lalu dengan tersenyum dia berkata.

“Tak apa, namaku dulu pun Lia.”

illustrated by: gandya

illustrated by: gandya


Gandi suka menggambar tengkorak, jadi tantangan sendiri bikin fiksinya. Dan ide yang muncul di gambar ini adalah ini. XD

Terimakasih sudah membaca! :mrgreen:

28 thoughts on “Cinta ya Cinta

  1. Eh, ini twist yang seru banget :hehe. Jadi penasaran, hubungan mereka itu pada akhirnya halal apa tidak, sih, kalau dilihat dari segi agama? :hehe. Sebab pada akhirnya kan mereka jadi hubungan lawan jenis juga, ya… ah kok pikiran saya malah sampai sana, sih, maafkan :haha!.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s