Candu

Sukma sedang melamunkan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengecohnya dari penampilan. Dia tak mengira akan menyukai laki-laki sederhana dengan kemeja polos abu-abu, celana jeans, sepatu pantofel, ransel hitam dan rambut hitam yang rapi. Ya, laki-laki itu -yang berkulit hitam dan bibirnya yang tipis yang jika tersenyum akan terlihat manis sekali bagi Sukma- sedang membuatnya merasakan candunya cinta. Dari pertama perkenalannya di kelas sampai sekarang ketika dia dan laki-laki yang bernama Habibi itu sudah menjadi lebih sekedar dari teman, walaupun belum ada komitmen dalam bentuk apapun. Mungkin sekarang sudah ada ribuan percakapan di dalam whatsapp yang tak pernah Sukma hapus. Dan tiga kata ini lah yang membuat Sukma semakin melayang,

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

Sukma tersenyum-senyum tanpa sadar sampai ia menyadari perempuan yang duduk di depannya memandang dengan mengerutkan dahi. Kemudian ia mengibas-ngibaskan bayangannya agar laki-laki itu segera menghilang dari pandangannya, seperti mengibas-ngibas bau rokok yang sangat menganggu.

Kemudian ia berdehem sambil membetulkan rambut dan letak tempat duduknya, menatapi layar laptop dan judul skripsi yang belum juga dia ketik. Jam di layar laptopnya sudah menunjukkan pukul 11 siang, yang berarti bahwa dia sudah duduk di situ selama satu jam, tetapi belum mengetikkan satu patah kata apapun. Rupanya cinta terlalu membuatnya melupakan judul skripsi.

Kali ini dia mencoba fokus. Jari-jarinya menari indah mengacuhkan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, sampai ia melihat laki-laki itu berjalan menuju arahnya. Sukma menunduk dan berpura-pura mengurusi skripsinya, walaupun kenyataannya ia hanya meraba-raba keyboard laptop. Ia ragu bahwa itu hanya wujud khayalannya. Kemudian dia mendongak lagi, ah ternyata benar laki-laki itu. Habibi tersenyum ke arahnya, lalu Sukma membalas ala kadarnya dan kembali berpura-pura dengan laptop. Ternyata, Habibi lebih memilih duduk di seberangnya dengan teman-teman daripada dengannya.

Sukma menyelipkan rambutnya ke telinga. Ia tak rela rambutnya menutupi pandangan laki-laki kesayangannya. Jantungnya berdegap kencang, tangannya berkeringat dingin, namun wajahnya kaku seperti tidak ada apa-apa. Lalu ia menyelesaikan judul skripsinya cepat-cepat.

Sabar-sabar. Memang harus begini. Akupun tak mau teman-temanku tau menyukainya. Setelah ini, aku akan mendekatinya. Sepertinya tidak apa-apa jika hanya mengobrol.

Selesai mengurusi judul skripsi dan konsultasi dengan dosen, dari kejauhan ia melihat Habibi ternyata duduk sendirian di kafetaria. Dengan kegirangan tentu Sukma menghampirinya, tapi tentu dengan sikap yang biasa-biasa saja. Ia memastikan rambutnya rapi dan badannya wangi. Lalu dia menuju arah Habibi dan duduk tepat di sebelahnya. Namun, Habibi pindah duduk tepat di depannya.

“I will sit here so that I can see and face you like this”

Sukma menahan senyumnya sambil menggigit gigit bibir bawahnya. Angin menghembus ke arahnya, dan dia bisa mencium parfum laki-laki dengan senyum manis itu. Rasanya seperti candu, sekali dicium, akan melayang, ingin lagi dan lagi.

Lalu Sukma melanjutkan perbincangannya dengan laki-laki itu. Sesekali jari-jari tangannya menyentuh jari-jari Habibi. Rasa nyaman dan hangat menjalar di tangannya dan menuju ke ruang-ruang hatinya.

Ah lupakan saja judul barusan, nikmati saja saat-saat ini sebelum pulang kampung. Aku akan menyesal jika melewatkannya.


 

Pagi itu mau tak mau Habibi harus pergi ke kampus, karena hari itu adalah hari terakhir mengurusi judul skripsi. Baginya mudah saja, karena ia sudah mempersiapkan judul-judul skripsi di semester sebelumnya. Sebelum berangkat, dipandanginya sebuah foto perempuan berjilbab yang tidak bisa ia lupakan, walaupun cerita romansa itu sudah berakhir sejak ia menjejakkan kaki di dunia perkuliahan. Sebuat pesan whatsapp muncul,

“Hari ini pergi kampus?” ternyata Sukma yang mengiriminya pesan.

“Iyalah, hari ini terakhir mengurusi judul skripsi kan?”

“Oke, aku juga, judul skripsiku belum kelar.”

“Ngomong-ngomong Sukma, mau tahu rahasiaku?”

“Apa itu?”

“I miss you.”

 

Mungkin mencintai perempuan lain akan membuat melupakannya, walaupun ia sudah mencoba berulang kali dengan perempuan lain. Ia merasa belum puas dan belum ada perempuan yang bisa membuatnya menghilangkan candunya akan perempuan di masa lampaunya itu. Dan sekarang pun ia menyukai dua perempuan di waktu yang sama.

Apa salahnya hanya menyukai? Lihat saja, siapa yang berhasil menaklukkanku, atau mereka sama saja seperti perempuan kebanyakan.

 

Habibi melangkahkan kakinya menuju kafetaria tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Dilihatnya Sukma sedang duduk di bangku panjang coklat dengan baju bermotif bunga, rok selutut, dan sepatu converse kesayangannya. Dia melihat Sukma melihat kearahnya, lalu Habibi tersenyum. Sukmapun membalas seperti acuh tak acuh dan Habibi pun tak peduli. Lalu ia menuju ke arah teman-temannya untuk mendiskusikan judul skripsi masing-masing.

 

Waktu pun berlalu. Selesai mengurusi judul skripsi dan konsultasi dengan dosen,teman-temannya pulang ke kos masing-masing, packing, dan siap menuju kampung halaman masing-masing. Habibi masih saja merenung, memikirkan siapa yang akan dipilihnya, karena secara tak sadar ia sudah memberikan janji masa depan kepada Dyah. Perawakannya mirip perempuan masa lalunya. Berkerudung ala perempuan-perempuan pondokan, wajah cantik putih dengan alis tebal, dan montok. Namun Dyah akan cepat merajuk jika Habibi tak memanjakannya. Itu yang membuat Habibi jengah.

Lalu, ada lagi Sukma. Seorang penari hiphop dengan wajah oriental. Rambutnya hitam panjang dan wajahnya cantik sekali. Habibi suka melihatnya berlenggak-lenggok di atas panggung, namun dia juga risih jika melihat laki-laki lain menikmati keindahan tubuhnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menikmati romansa dengan dua perempuan itu saja, tanpa memusingkan harus memilih siapa.

Tiba-tiba Sukma datang dan duduk tepat di sebelahnya. Harum semerbak badannya tercium di hidungnya. Habibi tersenyum dan duduk tepat di depan Sukma.

“I will sit here so that I can see and face you like this”

 


sketsa tangan

illustrated by: Gandya

 

*ps: membuat cerita dari sudut pandang laki-laki itu susah ya ..

14 thoughts on “Candu

  1. Pingback: Catata Harian: Lovely Hectic Weeks | when the heart speaks out

  2. Pingback: 11/07/15 | PETRICHOR

  3. Wihihihi Ini mbak Dis, fiksi nih, fiksi 😀 ajarin sih mbak ._. kamu bilang bikin cerita dari sudut pandang laki-laki susah, tapi kok bisa jadi bagus gitu mbak -_-

    Btw, mau tau rahasiaku nggak?
    Kamu keren mbak :p

    Like

  4. Sebagai fragmen, saya rasa cerita ini sudah cukup bagus, Mbak :hehe. Khas banget fragmen, cuma potongan cuplikan dari kejadian sehari-hari, tapi sarat dengan perasaan yang didalami dengan sangat halus :hehe. Pada intinya si Habibi masih agak bingung memilih sih ya, tapi saya harapkan dia bisa mengambil keputusan yang tepat.

    Pilihan memang harus dibuat, keputusan memang harus diambil, kecewa di salah satu (atau salah dua) pihak memang pasti, tapi yang lebih penting bagi seorang laki-laki adalah bisa mengambil keputusan, karena menggantungkan segalanya tak lebih dari memperpanjang sumbu bom waktu yang sedang terbakar…

    Ini fragmen yang bagus.

    Like

    • terimakasih :))

      semoga habibi segera memilih, karena membagi perasaan sepeerti itu tidak bagus dan memang seperti bom waktu. terlebih karena si sukma, habibi, dan dyah ini adalah teman saya (yg tentunya bukan nama asli tuh) hahahaha.

      tapi masih kurang puas dengan fiksi ini, karena tidak memahami karakter laki-laki. waktu ingin cerita dari sisi habibi rasanya suliiiit sekali. karena saya memang bukan laki-laki sih. hohoho. jadi tidk memahami otak laki-laki yang misterius itu, terutama perihal cinta. ulala ~ :3

      Liked by 1 person

      • Aah, jadi kayaknya ini diangkat dari kisah nyata, ya? :hehe.
        Yaa… saya juga bingung soalnya saya bukan Habibi :haha. Isi hatinya Habibi kan cuma dia seorang yang tahu :hehe.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s