Abadi

Perempuan itu menyentuh bibirnya, hidungnya, pipinya, lalu pelipisnya. Dalam cermin dia melihat guratan-guratan di sekitar mata. Ia tak menyenangi guratannya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita dengan usia berkepala empat. Dilihatnya gunting yang terletak di meja rias. Rasanya ingin mengeruk seluruh guratan dengan gunting itu. Namun dia sadar bahwa itu akan lebih meninggalkan bekas-bekas yang lebih menghinakannya. Lalu dilemparkannya gunting itu dengan keras-keras.

Tok, tok, tok. “Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?”

“Ah, tidak-tidak. Pergi kau.”

Dia berkaca lagi dengan baik-baik. Dengan perlahan dia mengoleskan krim anti penuaan untuk menutupi kekurangannya. Dengan hati-hati dia mengoleskannya dari dahi, pelipis, pipi kanan-kiri, hidung, lalu dengan perlahan dia menuju ke dagu. Kemudian dia memakai bedak, mempercantik matanya dengan warna-warnanya dengan tajam. Terakhir, dia menggunakan warna merah di bibirnya.

“Hah, kosmetik-kosmetik ini tidak akan membantu banyak. Ali harus membantuku!”

Malam itu juga dia mendaratkan mobilnya di rumah Ali. Dengan tak sabar, dia mengetuk pintu rumah sederhana itu berkali-kali.

“Kau lagi Belle.”

“Lihat Ali, guratan-guratan ini semakin jelas di wajahku.” sambil menunjuk pelipisnya.

“Masuklah dulu.” sahut laki-laki sederhana itu. Umurnya sudah berkepala empat, tetapi senyum bahagia selalu tersimpul di wajahnya.

Setelah duduk, Belle melanjutkan, “Aku tak percaya racikan obatmu tak berhasil. Apalah ini.”

“Kau tau Belle, untuk apa kau memusingkan guratanmu. Semua orang akan menua dan kecantikan yang abadi adalah yang dari dalam hati. Dan kau adalah pasienku yang paling cantik. Tak usah kau risaukan itu.”

“Kalau aku sudah cantik, Niko pasti tak akan meninggalkanku. Sudahlah hentikan omong kosongmu. Bantulah aku. Aku ingin, sempurna, cantik, kecantikan yang abadi.”

“Pergi saja mencari dokter yang lain Belle. Kau temanku, aku sudah peringatkan kau berkali-kali.”

“Tidak, tidak, tidak, aku percaya padamu. Ayolah, kau pasti punya sesuatu. Kau dokter yang sangat mahir”

“Kau sungguh menginginkan kecantikan yang abadi?”

“Ya, bahkan jika abadi itu ada, aku menginginkan itu.”

“Sebenarnya aku mempunyai sesuatu untukmu.”

“Apa itu Ali? Berikan padaku!”

“Namun dengan ini, kecantikanmu akan abadi, bahkan kau akan benar-benar abadi.”

“Sungguh? Kau bercanda Ali. Selama ini kau mempunyai obat itu, tapi kau menahannya dariku. Berikan padaku. Cepat-cepat!”

Ali beranjak dari kursinya, kemudian segera kembali dan memberikan obat keabadian itu padanya.

“Ada dua macam obat.” ujar Ali sambil menyerahkan dua benda itu kepada Belle. “Lihat, minuman itu cukup kau minum sekali dan kau akan abadi selamanya. Begitu pula dengan kecantikanmu. Ketika kau minum cairan itu, kulitmu akan seperti porselen. Ketika mengelupas atau terluka kau cukup memakai sedikit saja krim itu dan kau akan kembali seperti sedia kala. Krim itu cukup untuk bertahun-tahun. Aku membuatnya banyak sekali. Tapi ingat konsekuensinya Belle, karena ini benar-benar membuatmu abadi.”

“Abadi ya, seperti .. tidak mati?”

“Itulah yang aku maksud.”

“Kau sungguh jenius Ali! Konsekuensi? Justru itu akan membuatku bahagia.”

“Kau ingin abadi hanya untuk bahagia? Sungguh banyak cara untuk bahagia Belle, seperti ..”

“Sudahlah Ali, sudah. Simpan ceramahmu.” sahut Belle sambil meminum cairan itu. Kemudian perlahan-lahan kulitnya memutih, guratan-guratan di wajahnya memudah, dan kulitnya sekeras porselen.

“Minuman ini sungguh bereaksi. Lihatlah, aku sangat bahagia sekarang. Kau sungguh jenius Ali! Kau butuh berapa untuk obat ini?”

“SImpan saja uangmu. Semoga kau bahagia Belle.” kata Ali dengan tersenyum.

“Sungguh murah hati.” kata Belle. “Aku pergi dulu.”

Tahun demi tahun pun berlalu. Tak terasa sudah 20 tahun sejak ia bertemu dengan Ali dan kini Ali sudah meninggal. Belle pun pergi ke pemakaman Ali. Disana ia melihat wajah Ali yang keriput, istrinya yang kian menua dengan guratan dan garis-garis penuaan di wajahnya, dan anak-anaknya yang sudah tumbuh besar. Belle masih sendiri saja. Meskipun cantik dan banyak orang yang ingin bersamanya, ia sungguh pemilih dan bersikap kejam terhadap mereka. Ia ingin semua laki-laki itu tunduk dan menyembah-nyembahnya. Ia merasa sungguh memenangi kehidupan.

“Belle?” sapa Nani, istri Ali.

“Nani . .” ujar Belle sambil memeluknya. “Aku turut berduka cita kau tahu. Dia laki-laki yang sungguh baik hati.”

“Benar, namun aku bahagia karena sekarang dia berada di tempat Tuhannya.”

Belle hanya tersenyum dan berkata dalam hati, ‘Hmm, Tuhan, ya? Lihatlah ke depanmu ini nona, Tuhanmu berdiri di depanmu. Makhluk abadi nan cantik ini berdiri di hadapanmu. Lihat betapa sempurnanya aku.’

“Terimakasih Belle sudah berkunjung. Lihatlah dirimu, tetap cantik seperti biasa seperti tak pernah lekang oleh waktu. Aku pergi dulu, ada tamu yang harus aku jumpai Belle.”

‘Ha! Aku menang.”

Tak terasa tahun demi tahun pun berlalu dan kebahagian tak seperti yang Belle harapkan. Dia masih cantik, namun semua laki-laki yang berkata mencintainya hanya mengharapkan tubuh dan wajahnya saja. Belle lelah hidup seperti itu dan dia tetap tidak bisa apa-apa selain terus hidup dan hidup. Belle mulai menyadari kecantikan dan kebahagiaan sejati, tetapi semua sdah terlambat.

Belle berusia 200 tahun. Semua kerabat, keluarga, dan teman terdekatnya satu per satu mulai meninggal dan menyisakan dirinya yang sebata kara. Kecantikannya tetap abadi, namun kulit porselennya mulai mengelupas dan krimnya kian menipis. Namun dia tidak bisa menemukan krim seperti itu dimana-mana lagi.

Suatu saat, Belle sudah kehabisan krim. Dia sedang melamun dan memikirkan cara untuk mendapatkan krim itu, lalu tiba-tiba dia terjatuh dari tangga karena tidak memperhatikan arah jalannya. Badannya remuk, tangan dan kakinya terlepas karena walaupun kecantikannya abadi, tulangnya sungguh rapuh. Kulit wajahnya semakin mengelupas, mata kirinya jatuh, hidungnya lepas, pipinya berlubang terkena anak tangga. Kepalanya pun retak, sehingga otak segarnya terlihat. Namun, apa boleh buat, dia masih hidup.

7062

illustrated by: Gandya

9 thoughts on “Abadi

  1. Ini keren, Mbak… dark-nya terasa, apalagi ilustrasinya mendukung banget dengan isi dan makna cerita. Makanya jangan mendahului Tuhan atau mencoba mengelak dari hal yang sudah pasti di dunia ini: tua dan mati, karena ganjarannya pasti sangat setimpal. Yah, bahkan ketika Belle sadar pun, semua sudah terlambat, ia tetap hidup dengan abadi, tapi hidup dalam kematian.

    Keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s