Cerita KKN 8: Perpisahan, Semoga Ini Justru Menjadi Awal Persahabatan Kita

31 Mei 2015

Pagi itu aku bangun pukul 5.15, ternyata Upink sudah bangun juga. Badan rasanya pegal-pegal karena semalam aku tidur pukul 12 lewat. Biasa, aku kan tipe orang yang tidurnya tertib, tidak biasa begadang. Jadi sekalinya begadang, pasti paginya seperti kelelahan. Setelah sholat, aku dan Upink tidur kembali. Percuma juga kalau langsung mandi dan kamar mandinya masih dipakai Mbak Winda -anak perempuan satu-satunya Bu Sis- untuk mencuci baju. Cuman, tumben si Ayu 2-3 minggu terakhir ini belum bangun, karena biasanya yang bangun paling pagi dan mandi paling awal. Tapi ya begitu, mandinyaseperti sedang luluran terus berendam, kemudian semacam dia ketiduran disana, karena mesti lamaaaa. Kemudian akhirnya aku mandi pukul 7.15 pagi dan seperti biasa aku yang selalu paling rapi.

Setelah itu, kami makan di rumah Bu Sis. Beliau memasak sop, ayam pedas bumbu cabai hijau dan sambal. Setiap kami makan disana selalu ada sambal. Sepertinya sudah jadi budaya di keluarga Bu Sis bahwa makan tidak enak tanpa sambal. Dan sambalnya itu, aku sampai kapok makannya karena bukan levelnya lidahku. Yang paling terkesan buatku maah krupuknya. Bu Sis selalu menyediakan satu wadah krupuk untuk kami. Entah beliau beli dimana yang jelas krupuk itu enak dan kami selalu menghabiskan 3/4 dari jumlah krupuk di dalam wadah itu. Meskipun beliau sempat membuat kami resah tentang uang kos, tapi yasudahlah dimaafkan saja. Anggap saja kita sama-sama khilaf. Dan sarapan pagi terakhir disana ketika itu meskipun sop buatan Bu Sis lebih banyak gubisnya daripada wortel dan ucetnya, terasa sangat spesial di hati.

Setelah itu kami menuju Mas Nur untuk mendiskusikan perpisahan. Akhirnya diputuskan bahwa nanti yang akan menjelaskan proker utama Farid, karena dia pintar mengolah kata. Yang menjelaskan tentang denah adalah Prima, karena dia penanggungjawabnya. Kemudian yang menjelaskan brosur adalah Junda, yang menjelaskan website adalah Alfi karena aku yang buat masa aku juga yang menerangkan, ih males banget. :p ApalagiΒ  aku sudah bertugas memberi sambutan sebagai ketua KKN gelombang II. Aku juga agak trauma berbicara di balai desa, karena tempo hari karena namaku Gadis, aku dipanggilin ‘Mbak gadis, Mbak gadis.’ sama bapak-bapak yang mungkin belum tahu kalau seorang perempuan yang bernama Gadis itu wajar. Terakhir, yang menjelaskan tentang video adalah Faishol. Penanggungjawab adalah Lita, namun dia sudah jadi MC jadilah si Faishol. Winda menjadi penyanyi utama dan satu-satunya penyanyi kami. Dinanti, sang ibu bendara otomatis menjadi penanggungjawab konsumsi. Aci penanggungjawab sebagai tukang foto karena dia satu-satunya membawa SLR. Upink dan Ayu bertugas sebagai penerima tamu. Aku sendiri bertanggungjawab memberi sambutan dan otomatis sebagai ketua pelaksana. Ketika itu, aku sangat semangat dan positive think kalau acara kami akan lancar.

Di tengah-tengah kami berdiskusi, tiba-tiba Mas Nur datang sambil membawa sebuah kotak.

‘Ini buat kalian.’

Aku pikir itu berkat makanan, ternyata Mas Nur membawakan kami sebuah kue tart bertuliskan ‘Thanks for UB.’ Mas Nur so sweet! Padahal sebenernya kami yang seharusnya berterimakasih karena Mas Nur sudah mengizinkan kami minum kopi sepuasnya disana, makan mi instannya dan menikmati wifi-nya. Kejadian itu benar-benar tak terduga. Mas kos yang memberi anak kosannya sebuah kue tart untuk mengucapkan terimakasih. Ah Mas Nur, aku doakan kamu cepat dapat jodoh yang baik hati dan budiman!

S__933893

S__933894

posenya prima gak kuaaat. (yang pakai kaos hitam)

Siangnya kami memutuskan untuk berkunjung ke Pak Nur selaku pengawas untuk memberikan lembar penilaian. Teman-teman tidak mau bolak-balik ke Pandanrejo untuk masalah lembar penilaian ini, jadi kami memutuskan untuk berkujung ke rumah beliau setelah sholat dhuhur. Sampai disana setelah meberi album foto yang beliau minta sebagai kenang-kenangan, kami meberikan lembar penilaian. (Biar nilainya bagus, ngasih album foto dulu :3) Ketika kami sedang sama-sama diam, perutnya Aci bunyi. Bagaimana bisa kami tidak tertawa? Bahagialah si Prima, karena bukan dia satu-satunya orang yang ketika sedang bertamu di Pak Nur, perut bunyi lantaran lapar.

Bagiku yang terkesan dari Pak Nur malah tulisan beliau yang jarak spasinya jauh-jauh. Karena aku maniak analisa tulisan, spasi jauh ini bisa berarti dua hal: pertama biambang/ragu/menimbang-nimbang dan yang kedua berarti mencerminkan ketidaknyamanan berkomunikasi dengan seseorang. Kalau yang nomor dua tidak mungkin karena beliau jelas-jelas suka bercerita dengan kami. Kalau berkunjung ke rumah Pak Nur pasti tidak bisa sebentar karena orangnya cerita panjang kebar, otomatis jajannya beliau berkurang banyak, karena disana banyak camilan yang enak serta ada selai strawberry buatan beliau yang siap disantap.

Aku jadi ingat ketika pertama kali Ke rumah Pak Nur ketika rambut Prima masih panjang. Waktu itu kami sempat muter-muter mencari rumah Pak Nur dan tersesat di depan rumah Mas Nur, yang tertnyata menjadi tempat kos teman-teman laki. Aku masih ingat sekali ketika kami bertanya ke bapak-bapak yang sudah tua tentang rumah Pak Nur, bapak itu malah bilang, ‘Tole a?’ Sambil menunjuk rumah Mas Nur. Namun ternyata bukan. Kami belum tahu bahwa Mas Nur dan Pak Nur adalah dua orang yang berbeda. Ketika kami sedang bingung-bingungnya datanglah sang Mas Nur dan memberi tahu letak rumah Pak Nur yang kami cari. Sesampai di rumah Pak Nur, istrinya membuatkan kami minuman olahan strawberry dan kami juga diberi dodol serta selai strawberry buatan mereka.

Kami belum mengenal satu sama lain, tapi aku merasa teman-teman berusaha untuk saling mendekatkan diri.

DSCF1757

prima yang sedang serius

IMG_3150 (FILEminimizer)

lihat posenya Junda (yang ditengah)

Setelah itu, aku dan teman-teman perempuan kembali ke rumah Bu Sis untuk bersiap-siap (baca: dandan). Dan tidak dapat dipungkiri lagi kalau persiapanku yang pakai simple. Cuci muka – pakai sunblock – bedak – lip balm – memakai jilbab – parfum. Sederhana bukan, sedangkan Dinan dan Aci masih mau mandi lagi, Ayu masih mau cuci muka, tapi cuma mukanya selama Dinan dan Aci kalau sedang mandi. Winda masih memakai maskara, Lita juga masih heboh dengan make up-nya, dan Alfi yang bertugas penata rambutnya Winda. Akhirnya karena aku nggak ngapa-ngapain, aku pergi ke kos cowok dan membantu mereka membawa kue. Sesampai di balai desa, aku dan faishol harus kembali lagi karena lupa membawa pigura denah sebagai tanda kenang-kenangan ke desa. Lalu Faishol dan Prima harus kembali lagi karena daftar hadir tertinggal di tas Faishol. Sepertinya ketika itu kami agak gabut.

Di undangan perpisahan, kami mengundang warga untuk hadir tepat waktu pukul 15.00, tapi coba tebak mereka hadir pukul berapa? Pukul 16.00 saudara-saudara. Itupun yang hadir hanya sedikit, jadi Ibu Lurah mengundang ibu-ibu PKK masuk ke dalam. Kami agak ketar-ketir juga karena konsumsi terbatas, selain itu, teman-teman undangan dari Sumberejo belum datang. Kami takut konsumsi tidak cukup. Sementara itu dari pukul 15.00 sampai 16.30 Winda yang sangat berjasa karena sudah menghebohkan Balai Desa dengan nyanyianmu. Apalah kami tanpa dirimu :3

Akhirnya acara dimulai pukul 16.30. MC andalan kami, Lita, memulai acara dengan bismillah, kemudian diikuti dengan ketua memberi sambutan. Sambutanku berisi rasa terimakasih kepada warga, Bu Sis, dan Mas Nur, lalu permohonan maaf jika ada yang kurang berkenan serta harapan-harapan untuk Pandanrejo. Dilanjutkan oleh sambutan Pak Nur. Beliau juga minta maaf kalau ada yang kurang berkenan dan meminta maaf kalau misalnya dirasa nilai yang diberikan kurang. Beliau berkata bahwa sudah memberikan nilai cukup bagus denga rata-rata 75. Padahal, jujur, itu sebenarnya kurang. Teman-teman agak bingung karena aku belum memberi tahu hasilnya ke mereka semua. Hanya aku yang mendapat 80, sisanya 74, 75, dan 76. Hanya ada beberapa yang tahu, dan aku merasakan tatapan-tatapan bully. Hahahaha, It is not my fault. Lalalala ~ Setelah itu dilanjutkan oleh Pak Kepala Desa atau Pak Lurah. Walaupun menyebalkan di awal, menakutkan, suka merokok dimana-mana tanpa mengenal tempat dan waktu, aku bisa melihat Pak Lurah dengan tulus bahwa KKN kami bisa disebut berhasil. Bagaimana bisa aku tidak terharu? Selanjutnya sambutan dilanjutkan oleh Bu DPL. Kata Pak Lurah, ‘Iki sopo iki gak perkenalan?’ ‘Loh sudah pak, saya dosen pembimbing, awal-awal sudah perkenalan.’ Pak Lurah kami memang greget.

Lalu acara dilanjutkan oleh Farid, curhat tentang program kerja kami yang utama, yaitu pembentukan pokdarwis. Selanjutnya penjabaran materi oleh teman kami, Prima. Aku salut banget sama Prima. Dia slengekan, suka nggampangno sesuatu, tapi kalau dikasih kerjaan langsung tanggungjawab dan presentasi dia sangat bagus. Salut! Prim, akhirnya denah hasil kerja keras kita jadi! :’) Setelah itu dilanjutkan oleh Junda. Sebelum acara, Junda ini sangat menyebalkan:

“Aku emoh penjelasan brosur, emoh. Upink ae.”

“Loh kok gitu seh jun?”

“Emoh awakmu ae, mang uenak ngono sambutan.”

Karena Junda KKC, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil alih brosur. “Yawes Jun, gapapa aku ae yang presentasi brosur.”

Lalu Junda berkata, “Gak wes gapopo aku ae. Aku wes latihan.” Aku dan Prima cuma liat-liatan dengan pasrah. Cek opo Junda iku.

“Prim, bilang o ke aku: Sabaro yo dis.”

“Sabaro yo dis.”

“Iyo Prim, makasih.”

Setelah itu presentasi dilanjutkan oleh Alfi dan Faishol. Faishol kalau presentasi semacam ngelatih wajib militer. Ngga ada senyum-senyumnya dan ada kalimat yang diulang. Aku sama Prima cuma ngakak. Kami memang teman yang jahat. Setelah itu, video kami diputar.

Video ini seperti puncak acara kami. Aku sangat terharu dengan kerja keras teman-teman dan usaha kita selama ini tidak sia-sia. Penonton, aku, dan yang lain sangat heboh, terutama Pak Lurah karena di dalam video itu ada scene Soto Kali Lanang kebanggaannya. Setelah itu balai desa menggema riuh tepuk tangan penonton. Aku tidak bisa menuliskan bagaimana terharunya aku atau bahagianya aku di tengah-tengah kalian. Kemudian, acara terakhir adalah doa oleh Pak Nursaid dan ramah tamah dan Pak Lurah kembali berkaraoke ria dengan Winda. Disusul Abang tukang bakso yang ternyata suaranya juga bagus.

1

ketuanya yang paling pendek πŸ™‚

2

ketuanya yang cantik πŸ˜€

DSCF3820

dari kiri: bu sis yang sedang menggendong Kinan – mas Nur yang romantis so sweet – farid – prima – bu lurah – pak lurah – pak nur – lita – winda, penyanyi tunggal kami – mbak wiwin – mbak anis. Di deretean bawah dari kiri ada faishol – dinanti, bendahara yang berjasa – ketua – alfi – aci, yang posenya sudah seperti penari saman – upink – ayu – terakhir junda dengan jenggot kalifornianya,

Setelah sesi foto kami persiapan dan kembali ke rumah Bu Sis untuk Packing. Semoga kami meninggalkan kesan yang baik disana.

S__942115

Selanjutnya kami pergi ke kos Mas Nur. Minggu terakhir kami duduk di sofa empuknya Mas Nur. Sambil menunggu beliau untuk memotong kue bersama-sama, aku memandangi malam di depan rumah Mas Nur. Memandangi langitnya yang tenang. Memandangi rumah Haqi. Haqi yang menyebalkan karena cerewet dan Faishol yang menyebalkan karena pernah mendikte Haqi untuk bilang, ‘Jare Mbak Gadis aku bau kecut,’ tepat di depan ibunya .. Memandangi jalanan serta pagar hijau rumah Mas Nur. Sekali lagi memandangi jalannya yang sepi. Bisa jadi itu adalah malam terakhir dimana aku bisa menikmati keheningan dan kedamaian itu disini. Malam terakhir dimana aku bisa mernyanyi bersama Prima dan berbicara tentang Kurt Cobain.

S__942092

Dan aku akan merindukan kalian, merindukan masa-masa ini, merindukan teman-teman yang menyebalkan, cuek, ramah, berantakan, baik hati, pengertian, seperti kalian-kalian. Merindukan meng-sms-i kalian satu-satu tentang jarkoman. Men-chat Line kalian untuk mengingatkan detail-detal kecil lainnya atau curhat terselubung. Mungkin bagimu itu hal yang biasa, namun bagitu itu sangat berarti.

Ah, semua itu tinggal di sudut kenanganku.

14 thoughts on “Cerita KKN 8: Perpisahan, Semoga Ini Justru Menjadi Awal Persahabatan Kita

  1. Pingback: Yang Tanpa Alasan | PRISTA DWI AGIK

  2. Kayaknya komentar saya kemarin hilang :hehe.
    Saya sudah nonton videonya. Kalian hebat sekali. Semoga yang kalian lakukan di sana berguna bagi penduduk desa dalam jangka panjang, ya.
    Yang kalian lakukan ini adalah tidak terlupakan. Soalnya KKN kan sekali seumur hidup ya, jadi kenangan ini akan berharga sekali. Tangis, tawa, marah, senyum, semua itu akan jadi pengingat bahwa dulu kalian pernah sama-sama bergerak menyusun sesuatu untuk sebuah desa di kaki Gunung Arjuna. Saya kayaknya kenal tuh jembatannya :haha.

    Semoga tali silaturahmi kalian semua tidak putus setelah pulang dari acara KKN ini, soalnya kalian sudah jadi satu keluarga.

    Like

  3. Saya jadi berasa ikut KKN juga, Mbak :haha. Berasa banget pasti harunya, setelah semua cerita bersama sedih susah seperti itu. Kenangan yang tak akan terlupakan. Sampai kapan pun. Ibarat kata, KKN kan sekali seumur hidup ya, jadinya ini pasti betul-betul berat banget pasti saat perpisahan itu :)).

    Tapi syukurlah semua berujung sukses. Moga-moga yang kalian tinggalkan di sana bermanfaat untuk masyarakat, ya. Kalian KKN di Batu, ya? Kayaknya saya pernah lewat jembatan yang merah panjang itu saat perjalanan ke Karangploso :hehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s