Teman-teman Tuli (1)

Dear people, kalau aku ditanya pernah mengalami miss-komunikasi dengan teman-teman tuli? Sering. Masalahnya karena penggunaan bahasa isyarat itu sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia secara leksikal dan gramatikal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 805) leksikal berkaitan dengan kata; berkaitan dengan leksem; berkaitan dengan kosa kata. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa makna leksikal adalah makna yang berkaitan dengan kata, leksem, ataupun kosakata, sedangkan gramatikal adalah sesuai dengan tata bahasa atau menurut tata bahasa. Sebenarnya aku dulu juga tidak sadar bahwa penggunakan bahasa isyarat sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia. Aku pikir ke-dua bahasa saja itu sama saja dan Bahasa Indonesia itu bisa sangat mudah diinterpretasikan ke bahasa isyarat. Kenyataannya, tidak semudah itu teman.

Mengenai leksikal dan gramatikal, aku ingin cerita tentang pengalamanku mendampingi teman-teman tuli ketika mereka kuliah. Sebenarnya belum satu tahun aku jadi pendamping dan bahasa isyaratku belum sesempurna teman-teman volunteer yang sudah mendampingi selama tiga tahun, walaupun begitu banyak sekali cerita, pengalaman suka dan duka, serta pengetahuan yang aku dapat dari mereka. Oh ya, untuk yang belum pernah baca postinganku sebelumnya, tugas pendamping/volunteer adalah mendampingi mahasiswa tuna rungu/tuli/hard-hearing ketika mereka kuliah dan bertugas untuk mencatat/menginterpretasi kuliah dosen. Kenapa aku panggil tuli, bukan tuna rungu? Karena memang mereka lebih suka dipanggil tuli. Aku tidak tahu apakah semua tuli di Indonesia memang lebih suka dipanggil tuli, tetapi teman-teman aku di kampus yang tuna rungu lebih suka dipanggil tuli. Alasannya karena mereka tidak mau dikasihani dan mereka memang tuli, jadi ya panggil saja tuli. Katanya begitu.

Nah, pertama mengenai konsep leksikal, sebagian besar teman-teman tuli tidak/kurang memahami bahasa yang ‘abstrak’, mereka lebih mengerti konsep bahasa yang konkret atau yang lebih realitas. Contoh misalnya ketika aku pertama kali damping RI di FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dia bingung dengan kata seperti saham, investasi, dan kata-kata yang berhubungan dengan ekonomi lainnya. Karena aku bukan dari FEB, otomatis aku tanya teman-teman dia dulu apa definisi dari saham, investasi, lalala dan lainnya, baru aku jabarkan definisinya ke dia. Dia teman tuli yang aku dampingi pertama kalinya dan aku adalah volunteer dia yang pertama. Saat itu hari senin dan bahasa isyaratku sekedar hafalan huruf A-Z, ‘nama kamu siapa’, ‘kuliah dimana’, sudah. Selebihnya, kami sama-sama berkomunikasi lewat kertas. Dan itu menyedihkan. Dan aku sengsara sekali dan merasa sangat useless sebagai pendamping.

Ketika mendamping IF, mahasiswa seni rupa di Fakultas Ilmu Budaya, dia bingung dengan kata-kata seperti mengacuhkan, mengabaikan, pergeseran budaya dan telegram. Jadi sering ketika dosen sudah berbicara jauuuuuh, saya dan teman-teman tuli masih sibuk membicarakan kata-kata tertentu yang mereka tidak mengerti. Ini salah satu tantanganku sebagai intrepeter (kalau sudah bisa dibilang intrepeter).

Itu masih berhubungan dengan kata, sama hal-nya juga dengan kalimat. Kadang konsep kalimat mereka tidak sesuai dengan tata bahasa. Kadang bisa dimengerti, kadang tidak bisa dipahami sama sekali. Kadang juga melenceng dari makna yang sebenarnya mereka ingin ungkapkan. contoh RN:

‘maaf saya tidak masuk pkn, maaf ya.
‘kenapa? oke ron.’
‘urusanku, gadis.’

Secara pragmatik, kalimat terakhir RN mengandung unsur kemarahan, namun sebenarnya bisa jadi itu bukan yang di maksud.

‘oya mau huntiing untuk butuh orang meskin soalnya sosial manusia . tapi tidak tahu tempat soalnya gimana.’

Kalau kamu tidak punya pengalaman komunikasi dengan teman yang tuli, mungkin pertama kalinya pasti kamu akan bingung, tapi lama kelamaan nanti kamu akan terbiasa.

Tantangan sebagai interpreter yang lain, tentang kata konotasi juga. Sebagai pendamping, otomatis aku harus mengintrepetasi semua kata-kata dosen, nah pada suatu ketika si dosen cerita tentang ‘ayam kampus’. Dia pahamnya ya hewan ayam itu yang ada di kampus. Lalu, aku harus menjelaskan lagi, itu maksudnya apa~

Oke. Sementara ini dulu. Nanti aku pengen cerita tentang ternyata banyak mahasiswa di kampsku yang belum sadar bahwa kampus kami adalah kampus inklusif, tentang polemik bahwa bahasa isyarat tidak perlu, dan bagaimana mereka mempelajari kata-kata yang abstrak?

See ya! 🙂

6 thoughts on “Teman-teman Tuli (1)

  1. Pingback: Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas (part II) | PETRICHOR

  2. Pingback: Dissability Awareness (2): Belajar Bahasa Isyarat, yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s