not a pro-runner, yet.

Sela-sela jariku menghitam, karena kemarin lusa sensei memberi kami begitu banyak hukuman push up. Gara-garanya, kami tidak mau berteriak ketika atau karena dia mengira kami tidak latihan dengan benar-benar (baca: latihan karate). Ketika push up, jari-jari harus mengepal, katanya biar pukulanmu benar dan kuat. Ya begitulah resiko karate-wati, tangan dan kakimu nggak bakal cantik. Namun tak apalah, yang penting sehat. Bangga juga walaupun masih sabuk hijau. Jarang kan orang mau belajar macam beginian.

Tetapi tetap saja, berat badanku tidak berkurang.

Padahal aku latihan karate setiap hari minggu. Lari pagi delapan kali putaran lapangan sepak bola 25-30 menit setiap hari senin, kamis, dan sabtu. Push up, back up, crunches. Setiap hari selasa-jumat, aku commute sekitar 30 menit. Aku makan ketika lapar dan berhenti sebelum kekenyangan. Hmm.

I have no idea, tapi setidaknya olahraga itu membuatku senang. Memang katanya olahraga menghasilkan hormon endorfin pada otak, yaitu hormon yang membuat kita bahagia.

Ah ya, dan kemarin ketika lari pagi, aku bertemu Reza lagi, tapi dia sudah selesai ketika aku baru mulai.

Aku sampai hafal dengan orang-orang yang biasanya lari pagi di lapangan itu.

Ada mas-mas peranakan Arab yang pakai topi adidas, tingginya sekitar 175-180 cm. Larinya cepat dan lebih lama dari aku. Sepertinya Reza kenal dengan dia. (mau dong dikenalin ><).

Ada mas-mas yang suka pakai topi Ireland. Larinya cepat, tapi mungkin hanya satu mile.

Ada mas-mas tapak suci. Nah ini atlet. Dia kalau lari sangat cepat, lama, dan konsisten. Setelah lari, dia masih push up full. Suka suka suka.

Ada juga yang atlet Samarinda. Sama seperti mas tapak suci. Bedanya dia lebih ganteng, putih, six pack sempurna. (dia buka-buka baju sih).

Ada mas-mas yang suka pakai celana ketat dan kaos hitam bertuliskan ‘hj campos’, entah maknanya apa. Dia suka jalan-lari-jalan-lari. Kalau berpapasan suka malu-malu geje.

Ada bapak-bapak yang setiap hari lari. Sepertinya dia sudah kebiasaan, jadi walaupun sudah bapak-bapak, badannya masih proporsional. (tidak seperti salah satu dosenku yang masi muda tapi sudah buncit. olah raga penting pak!)

Ada mas-mas yang badannya hmmmh, yang belakangan aku tahu ternyata dia anak kost, tetanggaku. Pantas dia pernah senyum ke aku, tapi aku nggak ngeh. Maaf mas! Hiks.

Ada ibu-ibu yang suka jalan-jalan disana. Dulu pernah menemukan uangku sejumlah 50rb yang jatuh tanpa kusadari. Sangat berjasa sekali. Semoga amal perbuatanmu dibalas oleh Tuhan YME ya bu, ya ..

Ada kakek-kakek yang suka pakai jaket biru. Beliau sukanya jalan-jalan.

Ada pasangan kakek-nenek yang sukanya jalan-jalan juga sambil ngobrol.

Ada rektor UMM. Biasanya bertemu tiap hari sabtu. Beliau biasanya setelah bersepeda, lari-lari dan jalan sebentar di lapangan.

Itulah mereka ‘teman’ lari-ku di lapangan. Jarang ada yang mbak-mbak. Kalaupun ada, mereka tidak rutin lari, jadi aku tidak bisa memetakan mereka seperti mas-mas di atas.Kalau mereka lari biasanya langsung lari cepat, tapi berhenti ketika masih 2-4 putaran. haihhh.

That’s it. Aku tidak mengenal mereka, tapi aku ingin kenal dan ingin tau cerita mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s