Fragmen Pendidikan Indonesia

Siapa yang setuju kalau anak yang bermasalah di sekolah -seperti berkelahi dan merokok- harus dikeluarkan dari sekolah? Aku tidak.

Siang itu, adik-adikku yang masih SMP pulang sekolah dan seperti biasa mereka langsung memberondong kami dengan berbagai macam cerita dan kejadian yang terjadi di sekolah mereka.

‘Ma, ma, itu loh temanku ada yang dikeluarkan dari sekolah.’ kata Ata.

‘Kenapa?’

‘Berkelahi, trus ada yang merokok, ketahuan sama mahasiswa UB, trus di foto. Mahasiswa e dapat 400 ribu e ma.’

‘Teman sekelasku juga ma, dia sudah pernah dapat peringatan, tapi nggak berhenti.’ kata Fitri.

Oalah sakno yo, tapi yo pantes lek ngono, cek gak nulari kancane. Uenak Mahasiswa e. Kamu ati-ati lo to, nduk, le.‘ Lalu, dengan terpaksa mama harus menghentikan cerita mereka karena mereka harus segera mandi dan makan siang.

Sepertinya, diantara keluargaku, hanya aku yang tidak setuju dengan adanya tindakan sekolah. Memang itu hak prerogatif sekolah, memasukkan dan mengeluarkan siswanya, dan sekolah mana yang mau namanya tercoreng karena siswanya berkelahi, merokok, minum-minuman keras, atau memakai zat adiktif. Tapi, pernahkah kita berfikir bagaimana nasib para siswa yang dikeluarkan itu.

Sekolah mana yang mau menerima siswa dengan catatan pelanggaran-pelanggaran yang bisa merusak nama baik sekolah, atau mempengaruhi siswa-siswi lain dengan perilaku buruknya. Bandingkan dengan siswa yang berprestasi, pasti sekolah yang dipilih oleh anak itu akan bangga, koar-koar, siswa-siswa di sekolahnya banyak yang berprestasi. Jadi, sekolah memilih mengeluarkan siswa yang berperilaku buruk, daripada mendidik, mengubahnya menjadi remaja yang lebih baik. Tidak adil, kan?

Padahal tugas sekolah adalah mendidik siswa dan seharusnya tanpa pilih-pilih.

Apalagi, usia remaja adalah usia yang labil dan rentan tentang pertumbuhan karakter. Kebanyakan, remaja-remaja yang melakukan pelanggaran mempunyai masalah keluarga. Jangan langsung menyalahkan mereka atas pelanggaran yang mereka buat. Seharusnya, ini tugas bimbingan konseling sekolah untuk meneliti mengapa mereka melakukan pelanggaran dan bagaimana membuat mereka jera. Seharusnya ada pembinaan, bukan hanya memperketat aturan. Kalau di sekolah dia tidak di urus, di rumah dia dibiarkan, atau hanya dimarahi tanpa diberi solusi, bagaimana dia akan berubah menjadi pribadi yang baik. Bagus kalau dia punya motivasi untuk menjadi lebih baik, kalau tidak, bisa jadi dia hanya akan jadi sampah masyarakat nantinya. Coba kita pikirkan. Apalagi, remaja merupakan peranan penting dalam perkembangan sebuah bangsa. Sayangnya, pendidikan kita sepertinya kurang memperhatikan hal sekecil ini,Seharusnya, sekolah tidak perlu mengeluarkan siswa-siswa tersebut, tetapi mendidik, membina, dan memberi konseling, agar mereka bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Memang membutuhkan usaha dan tenaga yang lebih, tapi saya pikir hal ini lebih bermanfaat daripada hanya mengeluarkan siswa dari sekolah, yang menguntungkan pihak sekolah, tetapi merugikan siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s