Jadi Volunteer

(1)

Sudah tahu kan aku sedang menjadi relawan di sini? Namun aku sudah mengisi form tidak hadir karena masih liburan di Indonesia. Toh, karena ini sifatnya keikhlasan dan tidak dibayar, tidak ada unsur paksaan. Kalau sibuk dan tidak bisa mengajar boleh asalkan ada pemberitahuan, jangan tiba-tiba menghilang.

Namun, aku ragu akan meneruskan menjadi relawan di sini atau tidak. Pasalnya, hingga pertemuan ke-empat aku tidak bisa menjalin hubungan baik atau rapport dengan si adik. Dia laki-laki kelas 2 SD. Aku sudah menawarkan pelajaran matematika, bahasa, kerajinan tangan membuat robot, bermain uno, mewarnai, sampai bermain game di iPad. Tidak ada yang bisa membuatnya semangat atau ceria. Dia malah maunya main Subwey surfer atau Plant vs Zombie yang ada di iPad-ku, yang terpaksa aku uninstall agar dia tidak main itu terus. Aku juga sampai menawarkan dia menonton Netflix, film anak-anak, tapi dia tetap ogah-ogah-an. Aku benar-benar mati kutu dan merasa tidak bermanfaat.

Pada hari itu, dia berkata dia tidak akan datang lagi minggu depannya. Aku tidak tahu apakah itu hanya ancaman dia atau beneran, karena dia pernah bilang seperti itu, dan toh ujung-ujungnya dia tetap datang. Aku sebenarnya paham kenapa dia malas dan tidak termotivasi untuk melakukan apa pun, karena dia datang ke sini hanya karena disuruh ayahnya, sedangkan dia berkata dia memilih untuk bermain video game saja di rumah.
Continue reading

Not a Typical Day of the Not so Average Girl

(1)

Yesterday, one of my relatives married. I’m happy, and touched, yet sad and miserable for the fact that I’m freaking single. And the guy that I like probably do not realize that I like him, or he might realize about it but he do not like me back, or he actually has already his significant other, or whatsoever. I have so many probabilities in my head. So, I won’t be disappointed if things do not happen like what I want. Continue reading

Perbedaan Budaya dalam Bahasa Tulis dan Refleksi Diri

Bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kita tidak perlu memperhatikan tanda baca, menggunakan huruf besar atau kecil, imbuhan, dan lain-lainnya. Dalam bahasa tulis, terutama dalam sisi akademik, kita harus memperhatikan segala detail dari topik, paragraf, isi, dan tanda baca. Standar bagus tidaknya bahasa tulis dan bahasa lisan juga berbeda. Dalam bahasa tulis, sebuah tulisan bisa dikatan  bagus jika mengikuti 7s, yaitu: clear (jelas), concise (singkat), concrete (konkret), correct (benar), coherent (koheren), complete (lengkap), dan courteous (santun).

Pertanyaannya adalah, apakah standar tulisan dari satu budaya ke budaya lainnya sama? Apakah kriteria tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai budaya?

Continue reading

Culture Shock

Hari ini pas satu minggu aku berada di Malang, Indonesia. Dalam satu minggu, aku sudah makan nasi padang, bakso, nasi goreng, sate ayam, ceker, dan, soto. Makanan-makanan yang aku idam-idamkan selama ini. Masih banyak lagi makanan yang ingin aku makan sebelum kembali studi ke Australia. Dalam satu minggu, jadual bertemu teman-teman lama, silaturahmi ke saudara, dan family time juga full. Satu minggu berlalu dengan sangat cepat, dan aku sukanya, aku jarang buka media sosial. Walaupun agak-agak bersalah karena aku punya tanggungjawab di organisasi.

Continue reading

Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan (Versi Gadis)

Otak, perasaan, dan mood, sulit sekali kalau sudah malam untuk diajak kompromi, entah kenapa. Padahal hari ini ada tugas yang belum aku kumpulkan. Sebenarnya sudah selesai dan sekarang sedang dicek oleh teman. Jadi, aku lumayan santai dan menulis di blog adalah cara untuk menyegarkan otak sekaligus menjadi produktif. Setelah menulis di sini, aku berjanji akan memaksa diriku untuk menulis esay. 

Temanku, menulis dengan judul yang sama, ‘Pertemanan Laki-Laki dan Perempuan’, di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.  Dia yang menulis duluan. Tempo hari, dia menunjukkan tulisan yang ini ketika kami sedang berdiskusi tentang sesuatu. Kami sering begini. Ketika curhat atau diskusi, daripada repot-repot menjelaskan hal yang sudah kami tulis di blog, kami akan saling berbagi tulisan masing-masing. Dan, tulisan dia yang ini membuat aku berkontemplasi selama beberapa hari terakhir.

*Yang berwarna biru, tulisan dari Darin di blog kalyanamita[dot]wordpress[dot]com.

Aku memasuki fase pertemanan orang-orang dewasa, dan jenis hubungan di atas ternyata gak selalu bisa disebut teman dalam beberapa budaya atau lingkar pertemanan.

Continue reading

First Ramadan in Australia and a Story Behind My Blog

Hi Y’all!

This week is pretty hectic. I have three essays more to go due on 25 May, 4 June, and 8 June. Also, this is Ramadan month which I actually have some to do list as well such as read Quran one day one juz. I also genuinely want to write to you all of my very first experience fasting in Australia, but I merely have time about it.

Anyway, before I ‘talk’ about my fasting experience, I would like to talk about this blog. So, I actually have two blogs, this one and the other one that I deactivated. I set it as a private mode so no one can’t see it but me because I write some personal stories there. I don’t want to see it again, and I don’t want people to reread it, because what’s done is done. However, somehow, a few weeks ago I feel like my posts on my other blog is precious and it is what’s a waste if just dump it like that. So, I export it to this blog, and tadaaaa there are more than 400 posts from 2013 on this blog. But, now, I realise, why I do I even did it. Thank God that  WordPress has an excellent system, and I can move those post into draft posts easily.

The reason I made a new blog, Not Average Girl, because I want this blog is much more professional and less private stuff of my daily life. Ideally, I want to run two blogs, this one is to share my scholarship and school stuff, while the other is where I can tell you my personal stories, my romance stories, in a frank way, and just be me. Meanwhile, I just can’t run two blogs. It is exhausted, and I don’t have much time. So, I exported all of my posts here without thinking about the consequences, and have moved it again into drafts post. I’m so-so-so silly.

I love writing on the blog, even telling my personal stories. Yet, recently, I feel like, people are judging me based on what I write here. I don’t know whether this is just my anxiety or what, but I have changed my mind, and I don’t want to write too personal stories. I used to write everything on my blog, and it is so much fun! And a lot of people leave comments on my blog, share their experience or leave a suggestion. I also used to write about my romance life. When I re-read it again, I feel like, “Omg, it is such a drama”, “Omg, why do I even like this bloke”, and whatsoever. And I still do remember about a guy who liked me, but he also liked another girl in the same time. It’s so funny. Now he is so chill to me, I don’t even know whether he remembers what he did in the past. He was like, “Hi Gadis, can you write some wishes to me on a piece of paper and capture it when you hang out somewhere in Australia”. I’ll be like, dude. Okay, I’ll leave it here.

Alrighty then, so here we go, my first Ramadan in Australia.

Continue reading