2019: Birthday Note

2019: Birthday Note

First of all, I thank all of you for the birthday wishes. I feel loved and grateful. After all this year, you guys still remember me, and still being my friend no matter how weird and cranky I am sometimes (or maybe often, or always, I don’t know — you decide :D). I feel loved because even though I don’t care about my birthday thingy, yet you guys still care about it. So, I am sending this virtual hug to all of of my friends, and all of you who spend your time by reading this: I love you too guys!

Read more
Body Shaming

Body Shaming

Sudah tahu body shaming kan? Sepertinya tidak ada istilah khusus untuk collocation ini dalam Bahasa Indonesia. Body shaming adalah ketika kamu mengomentasi fisik seseorang, dan mengarah ke konotasi negatif. Sebenarnya ketika kamu mengomentari tubuh seseorang, itu sudah negatif sih, contohnya: “Kamu gendutan ya?”, “Jerawatmu kok banyak?”. Ya, tujuan kamu kasih komentar tentang fisik seseorang apasih?

Read more

Equality of Opportunity

Equality of Opportunity

Postingan ini aku tulis karena ada beberapa hal yang terpikir beberapa saat lalu. Postingan ini juga bukan postingan ilmiah walaupun judul yang tulis memakai istilah yang sangat spesifik. Hanya saja, cerita hari ini mengingatkanku pada beberapa hal yang aku tulis di thesis-ku; yang aku ga bakalan pernah tahu bahwa “Equality of Opportunity” itu ada; kalau aku tidak menulis thesis. #thankstomysupervisor

Ada sepupu yang datang berkunjung dari Tumpang. Seharusnya aku yang berkunjung besok; sekalian silaturahmi karena sudah lama aku tidak bertamu ke saudara-saudaraku di Tumpang, termasuk si sepupuku ini. Namun, karena beliau besok ada keperluan, beliau yang datang jauh-jauh ke rumahku hari ini.

Sepupuku sudah mempunyai 3 anak. Anaknya yang pertama sudah sebesar adik laki-lakiku yang kelas 3 SMA. Jadi, pembicaraan kami tadi seputar melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Kata sepupuku, aku pasti enak karena sudah lulus S2 dan sudah akan bekerja. Alhamdulillah. Aku hanya tersenyum. I don’t know how to explain. Bukan berarti aku tidak bersyukur karena sudah lulus kuliah di luar negeri, tapi aku masih merasa belum apa-apa. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan aku juga masih harus banyak belajar.

Pokoknya aku mau kuliah, aku gak gelem kerja koyok sampean. Lanjut cerita sepupuku. Dia bilang anaknya yang sulung pokoknya ingin lanjut kuliah karena tidak ingin bekerja seperti bapaknya. Sepupuku dan suaminya adalah wiraswasta. Mereka memang dari keluarga yang selalu struggle di masalah finansial dari dulu. Jadi ketika mereka bertanya kepada ibuku berapa biaya kuliah, dan ibuku menjawab berdasarkan biaya adikku yang mahasiswa baru sekarang, ekspresi wajah mereka berubah. Dan aku paham. Tidak semua orang bisa mengakses bangku pendidikan karena biaya perkuliahan yang tinggi.

Read more
How to Shop in Melbourne on A Student Budget

How to Shop in Melbourne on A Student Budget

OK. My clothing preferences is chic, casual, girly, and clean-look. Chic-look is pretty much a modern kind of outfit, an I-dont-care look, and for the most important is oh-it’s-good-on-me look. Clean-look is basically just white, black, or a combination of these two. So, these shopping recommendations below is based on my preferences. It might and might not suit your preferences.

My super chic-casual look πŸ™‚
Read more
Barbie Snag on Weds

Barbie Snag on Weds

Untuk memperkuat sosialisasi bahasa keduaku, aku mengikuti banyak kegiatan volunteer di kampus. Selain ‘memaksa’ku untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan orang-orang berbagai budaya dan aksen, aku suka karena kampus suka memberi kaos dan jaket gratis kepada volunteer. 😌 Siapa yang tidak bangga memakai hoodie apparel kampus?

Kali ini aku menjadi volunteer Wednesday Session. Di Kampus Monash, setiap Hari Rabu selalu ada makanan dan minuman gratis dan juga band indie. Mendengarkan band-band indie Australia aku pikir juga memperkuat kognitifku pada bahasa keduaku, Bahasa Inggris, yang tengah aku pelajari.

Read more
17 Western Songs Banned in West Java. Really?​

17 Western Songs Banned in West Java. Really?​

Indonesian regional broadcasting commission (IRBC) in West Java restricted 17 western songs. It is not completely banned, but it can only be played between 10pm and 3am. Songs such as ‘That’s what I like’ and ‘Versace on the floor’ by Bruno Mars and ‘Dusk till down’ by my baby Zayn were considered pornographic.

On his Instagram, Ridwan Kamil, the governor of West Java, explained that (1) internet is not IRBC’s authority, so they only authorize radio and TV station; (2) IRBC is an independent institution, it is not under the government rule; (3) IRBC is not totally banned the songs but only limit it and it based on public complaints; (4) on 2016, IRBC banned several dangdut songs too; (5) this year IRBC banned 17 western songs because it has ‘adult content’; (6) those songs can only be played between 10pm and 3am; (7) West Java government committed to strengthen character education; (8) West Java government also committed to appreciating artwork and creativity.

I read in comment section that the majority of people disagree with the regulation. They thought the rule is useless since kids and teenagers still could access the songs on internet and music player such us spotify and apple music. They also commented about films and sopa opera that airing in the TV now are uneducated, as well as some Indonesian pop songs and dangdut songs. In the point (7), it said that West Java government wants to enhance the character education, but how about the Indonesian films and songs itself?

So, does such rule really necessary?

Read more
Aku, Kamu. Kita?

Aku, Kamu. Kita?

Aku, Nata, dan Arin sedang edit buku. Buku kami terdiri dari beberapa penulis. Setiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda. Nah, tugas kami adalah menyatukan tulisan-tulisan tersebut agar roh-nya sama.

Buku tersebut dimulai pada tahun 2016/2017. Sempat berhenti. Lalu aku ingat kembali dengan buku tersebut awal tahun ini karena sesuatu. Kami benar-benar ingin buku ini terbit, karena sayang kalau tidak terbit. Cuman ada beberapa hal yang menurut kami kurang, jadi masih saja terus diedit. Sekarang, Arin yang sedang aktif berproses mengedit buku tersebut. Aku dan Nata masih stuck.

Suatu ketika, Arin bertanya, “Eh, ini satu paragraf ada yang pake ‘saya’ terus pake ‘aku’ juga?”

“Pakai kata ‘aku’ aja. Aku ngerasa lebih deket dengan penulis ketika dia bilang aku”.

“Ada teori psikologinya ga sih itu? Or just you. Soalnya temenku juga gitu”.

Read more